- Pajak Opsen mulai diterapkan sejak awal 2025 sebagai pungutan tambahan pada PKB dan BBNKB.
- Pungutan tambahan ini bertujuan memperkuat kapasitas fiskal daerah untuk pembiayaan pembangunan infrastruktur lokal.
- Pemerintah Jawa Tengah berencana memberikan diskon PKB 5% tahun 2026 sebagai respons kenaikan beban masyarakat.
SuaraJawaTengah.id - Di warung kopi, di pinggir jalan, hingga di antrean panjang Samsat, obrolan tentang "pajak opsen" kini menjadi bumbu pahit dalam setiap percakapan.
Bukan lagi sekadar angka di lembar STNK, melainkan beban nyata yang terasa langsung di kantong rakyat kecil.
Janji-janji manis tentang pembangunan daerah yang akan dibiayai dari pajak ini seolah hanya terdengar di atas kertas, sementara di lapangan, masyarakat seperti Miftah dan Yayuk harus berjuang lebih keras untuk sekadar memenuhi kewajiban.
Dikeahui, istilah "opsen" tiba-tiba menjadi kosakata yang akrab di telinga wajib pajak, memicu kegelisahan dan gerakan penolakan yang masif di jagat maya.
Sejak awal 2025, skema pajak baru ini telah diterapkan, dan dampaknya langsung terasa di kantong masyarakat, terutama mereka yang selama ini patuh membayar pajak.
Opsen, yang menurut pemerintah merupakan faktor utama perubahan skema pajak, didefinisikan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 2022 tentang Hubungan Keuangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah (UU HKPD) sebagai pungutan tambahan pajak.
Pungutan ini dipungut berdasarkan persentase tertentu, bersamaan dengan Pajak Kendaraan Bermotor (PKB) dan Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBNKB).
Secara sederhana, opsen adalah tambahan biaya yang harus dibayar wajib pajak di atas tarif pokok PKB dan BBNKB yang sudah ada. Dengan adanya opsen, komponen biaya pada STNK menjadi lebih banyak, menambah beban yang harus ditanggung masyarakat.
Penerapan opsen ini, yang mulai berlaku pada 5 Januari 2025, bertujuan untuk memperkuat kapasitas fiskal pemerintah kabupaten/kota secara langsung.
Baca Juga: Alarm BMKG: Jateng Dikepung Hujan Ekstrem, Masyarakat Diminta Waspada!
Dana yang terkumpul dari opsen diharapkan dapat digunakan untuk pembangunan infrastruktur lokal, peningkatan pelayanan publik, dan penguatan anggaran daerah.
Plt Kepala Bapenda Jateng, Muhammad Masrofi, menegaskan bahwa PKB adalah salah satu komponen utama Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang menopang APBD Jawa Tengah.
"Jika PAD berkurang maka secara otomatis akan berpengaruh pada postur anggaran di APBD. Padahal APBD itu digunakan untuk pembangunan daerah," katanya.
Pertimbangan fiskal ini menjadi krusial, terlebih setelah Pemprov Jateng mengalami pemotongan dana transfer dari pemerintah pusat sebesar Rp1,5 triliun tahun ini.
Namun, di balik narasi pembangunan dan penguatan fiskal daerah, ada suara-suara rakyat kecil yang merasakan langsung dampak dari kebijakan ini.
Di tengah panasnya perdebatan di media sosial, realitas di lapangan menunjukkan bagaimana masyarakat berjuang untuk memenuhi kewajiban pajaknya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Asal-usul Kenapa Semua Pejabat hingga Diplomat Iran Tak Pakai Dasi
- 5 HP Infinix Kamera Beresolusi Tinggi Terbaru 2026 dengan Harga Murah
- 7 Rekomendasi Parfum Lokal Tahan Lama dengan Wangi Musky
- Nyanyi Sambil Rebahan di Aspal, Aksi Ekstrem Pinkan Mambo Cari Nafkah Jadi Omongan
- Penyebab BRImo Sempat Terkendala Pagi Ini, Kini Layanan Pulih Sepenuhnya
Pilihan
-
Diperiksa Kasus Penggelapan Rp2,4 Triliun, Apa Peran Dude Harlino dan Istri di PT DSI?
-
Diguncang Gempa M 7,6, Plafon Gereja Paroki Rumengkor Ambruk Jelang Ibadah Kamis Putih
-
Isak Tangis Pecah di Kulon Progo, Istri Praka Farizal Romadhon Tiba di Rumah Duka
-
Bareskrim Periksa Pasangan Artis Dude Herlino-Alyssa Terkait Skandal Kasus PT DSI Rp2,4 Triliun
-
BREAKING NEWS: Peringatan Dini Tsunami 3, BMKG Minta Evakuasi Warga
Terkini
-
Perkuat Pasar SBN, BRI Sabet Tiga Penghargaan Dealer Utama 2025
-
Kalahkan Persipura Jayapura, Kendal Tornado FC Youth Dapatkan Start Mulus
-
Waspada! Jawa Tengah Masih Diguyur Hujan Sepanjang April 2026, Potensi Cuaca Ekstrem Mengintai!
-
Lagi Tren Blok GM Semarang: Replika Blok M yang Bikin Anak Skena Betah Nongkrong
-
Legendaris Sejak 1965, Ini 5 Fakta Soto Kuali Mbah Sumarsono yang Tak Pernah Sepi