- Museum Nelayan Tanpa Perahu di Dusun Gleyoran menjaga tradisi nelayan Kali Progo yang mencari ikan tanpa perahu.
- Erupsi Merapi 2010 dan sampah menyebabkan ikan langka, mengancam mata pencaharian dan identitas budaya warga.
- Warga menolak rencana tambang tanah urug karena mengancam keseimbangan ekologis, resapan air, dan kelangsungan sungai.
SuaraJawaTengah.id - Museum Nelayan Tanpa Perahu dibangun sebagai arsip hidup tradisi berburu ikan di Kali Progo. Dari halaman rumah kayu itu, tampak perbuktikan rimbun penyangga sungai yang kini terancam dikeruk untuk tambang tanah urug.
Jika rencana tambang tanah urug terlaksana yang bakal punah bukan hanya tanah. Melainkan cara hidup warga yang secara turun temurun menggantungkan nasib dari kemurahan Kali Progo.
Menurut penggerak Museum Nelayan Tanpa Perahu, Tiyok, secara turun temurun mayoritas warga Dusun Gleyoran, Desa Sambeng bermata pencaharian penangkap ikan.
Mereka menjala ikan menyusuri aliran Kali Progo, kadang hingga jauh dari hulu ke hilir. “Sejak zaman simbah-simbah saya dulu sudah menangkap ikan. Mereka nelayan tapi tidak naik perahu,” kata Tiyok.
Saking dekatnya ikatan orang Gleyoran dengan Kali Progo, ada semacam keharusan anak-anak bisa berenang sejak kecil. “Belajar berenang buat kami sama seperti belajar berjalan,” ujar Tiyok bangga.
Begitu bangganya Tiyok dengan tradisi leluhur, hingga dia menyediakan rumah kayu warisan keluarganya diubah sebagian untuk museum. Di rumah ini dipamerkan macam-macam alat tangkap ikan dari bambu.
Jala sudah pasti. Kemudian ada ayak, telik, dan icir yang punya fungsi spesifik masing-masing untuk menangkap ikan.
Kadang mereka harus menyelam ke palung sungai. Berenang ke tengah atau menyisir tepian. Tanpa sampan. Hanya tubuh menjadi alat utama dan sungai yang menyediakan sumber penghidupan.
Jika benar relief Candi Borobudur adalah gambaran masyarakat sekitar, pahatan sosok-sosok memanggul ikan mungkin nenek moyang warga Gleyoran pada masa itu.
Baca Juga: Hidup Tak Segampang Itu Ferguso! Ilusi Slow Living di Magelang yang Bikin Perantau Gulung Tikar
Masuk akal, sebab kata Tiyok dulu hampir semua warga Gleyoran menggantungkan hidup dari berkebun dan mencari ikan. “Sekarang mungkin tinggal seperempatnya saja.”
Generasi muda lebih memilih pekerjaan yang lebih mudah dan menjanjikan. Selain itu, jumlah ikan di Kali Progo sekarang jauh berkurang.
Jenis Ikan Punah
Sungai yang dulu kaya, kini tak lagi sama. Titik balik yang paling diingat warga adalah erupsi Merapi pada 2010.
Material lahar dingin masuk lewat Kali Pabelan yang berhulu di puncak Merapi. Air berubah pekat, bercampur batu dan pasir. “Ikan banyak yang mati. Dari yang kecil sampai besar,” kata Tiyok.
Setelah erupsi ekosistem Kali Progo berubah permanen. Beberapa jenis ikan semakin jarang ditemui.
Tag
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
-
Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
-
Ada Pelantikan di Istana Sore Ini, Pratikno Ngaku Dapat Undangan Mendadak
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin