- Wahyu Wiji Nugroho merintis usaha sepatu di Magelang sejak 2022, namun bisnisnya gagal akibat biaya operasional tinggi dan pasar kurang mendukung.
- Keterbatasan jaringan sosial di Magelang menjadi tantangan signifikan bagi Wisnu yang terbiasa aktif dan dikenal di Solo.
- Narasi populer tentang Magelang sebagai kota "slow living" dianggap berbahaya jika disalahartikan sebagai pembenaran tanpa kerja keras finansial.
SuaraJawaTengah.id - "Hidup tak segampang itu, Ferguso!" Istilah populer yang sering dilontarkan ketika realita tak seindah ekspektasi, kini terasa sangat relevan bagi Wahyu Wiji Nugroho.
Magelang dalam bayangan orang sering tampil bak gambar pemandangan pada kartu pos. Gunung di kejauhan, pagi berkabut, dan ritme kota yang tak tergesa—tempat ideal untuk menepi.
Tapi bagi Wahyu, perantau asal Solo, hidupnya justru berkebalikan. Semenjak pindah ke Magelang tahun 2022, usaha yang sempat dirintisnya akhirnya gulung tikar.
Wahyu merintis bisnis dari nol. Tanpa kawan dan kenalan, dia kesepian di kota yang katanya menjanjikan kenyamanan.
Istrinya dosen yang diterima sebagai PNS di Magelang. Wisnu yang punya pekerjaan lebih fleksibel terpaksa meninggalkan Solo, kota yang memberinya jaringan, reputasi, dan panggung sosial.
Sebelum pindah, bayangannya soal Magelang adalah desa yang asri, pohon kelapa, dan rumah dengan halaman luas. Ternyata Magelang tak sesederhana itu.
Ada kota. Kawasan urban. Dan harga-harga kebutuhan hidup yang tak kalah mahal dari Solo—bahkan Jakarta.
“Jajan nasi goreng sama telur di sini bisa Rp17 ribu. Di Jakarta Timur ya segitu juga,” katanya.
Wahyu segera sadar bahwa biaya hidup di kota “slow living”, ternyata tidak sesantai itu. Bahwa tidak selalu kota kecil memberikan hak istimewa bisa belanja lebih murah.
Baca Juga: 7 Fakta Pemotor di Blora Terjang Jalan Cor Basah hingga Dilaporkan ke Polisi
Pindah ke kota “nyaman” tidak otomatis membuat hidup lebih gampang.
Pasar Sepi, Biaya Sewa Tinggi
Di Solo, Wahyu punya usaha penjualan sepatu Warrior. Brand yang lekat dengan pelajar.
Dia paham pasar dan ritme bisnis ini dari pengalaman bertahun-tahun. Di Solo Wahyu punya jaringan perkawanan yang luas.
Pernah aktif sebagai Ketua Liga Solo—kompetisi bola basket jenjang SD hingga SMA yang mempertemukannya dengan banyak orang, banyak ide, dan banyak peluang.
Di Magelang, dia mencoba mengulang bisnis dengan formula yang sama. Tiga tahun usaha sepatunya berjalan. Hasilnya? Bakar uang.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Cushion Terbaik dan Tahan Lama untuk Kondangan, Makeup Flawless Seharian
- 5 Sepeda Lipat Murah Kuat Angkut Beban hingga 100 Kg: Anti Ringkih dan Praktis
- 6 Sabun Cuci Muka yang Bagus untuk Memutihkan Wajah dan Harganya
- 5 Body Lotion untuk Memutihkan Kulit, Harga di Bawah Rp30 Ribu
- Pentagon Gelar Karpet Merah, Sjafrie Sjamsoeddin Dituding Bawa Agenda Akses Bebas di Langit RI
Pilihan
-
Bukan Merger, Willy Aditya Ungkap Rencana NasDem-Gerindra Bentuk 'Political Block'
-
Habis Kesabaran, Rossa Ancam Lapor Polisi Difitnah Korban Operasi Plastik Gagal
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Kenapa CFD di Kota Lain Lancar, Tapi Palembang Macet? Ini Penyebab yang Terungkap
-
JK Dilaporkan ke Polisi, Juru Bicara Jelaskan Konteks Ceramah
Terkini
-
Siap-siap! Ini Estimasi Biaya Kuliah Kedokteran Unsoed 2026, Setara Beli Mobil SUV Baru!
-
Viral! 7 Fakta Jukir Liar Ngepruk Rp40 Ribu di Kota Lama Semarang, Alasan Lupa dan Hujan
-
TPPD Jateng Ingatkan Anak Muda Jangan Terkecoh Konten Medsos: Kinerja Pemerintah Harus Berbasis Data
-
Konflik Geopolitik Tak Pernah Belanja di Warung, Tapi Pelaku UMKM Semarang Dipaksa Akrobat
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Lonjakan Kasus Campak, Ajak Warga Hidup Sehat