Budi Arista Romadhoni
Selasa, 10 Maret 2026 | 04:31 WIB
Ilustrasi polisi dikeroyok pemuda saat patroli sahur. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Kapolsek Kaliwungu dan anggota diserang pemuda saat patroli sahur cegah tawuran di Desa Krajan Kulon, Kendal, Minggu dini hari.
  • Awalnya polisi mengamankan tradisi ngangklang, kemudian membubarkan kerumunan yang diduga akan tawuran sebelum penyerangan terjadi.
  • Dua pemuda pelaku pengeroyokan berhasil diamankan polisi untuk menjalani pemeriksaan intensif mengenai motif kejadian.

SuaraJawaTengah.id - Patroli sahur yang biasanya dilakukan untuk menjaga keamanan selama bulan Ramadan justru berujung ricuh di Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal. Kapolsek Kaliwungu, AKP Nindya Putra Wahyu Nugroho, bersama seorang anggotanya menjadi korban pengeroyokan oleh sejumlah pemuda pada Minggu (8/3/2026) dini hari.

Insiden tersebut terjadi saat polisi berupaya membubarkan kerumunan remaja yang diduga akan melakukan tawuran. Peristiwa itu sempat terekam dalam video dan beredar di media sosial seperti Instagram @infoseputarkendal dan lainnya.

Berikut sembilan fakta terkait insiden pengeroyokan terhadap Kapolsek Kaliwungu tersebut.

1. Terjadi Saat Patroli Sahur Ramadan

Peristiwa pengeroyokan terjadi pada Minggu (8/3/2026) sekitar pukul 03.30 hingga 04.00 WIB. Saat itu jajaran Polsek Kaliwungu tengah melakukan patroli menjelang waktu sahur.

Patroli tersebut merupakan bagian dari upaya kepolisian menjaga keamanan selama bulan Ramadan, khususnya untuk mencegah potensi gangguan seperti tawuran remaja maupun perang sarung yang kerap terjadi pada malam hingga dini hari.

2. Lokasi Kejadian di Desa Krajan Kulon Kaliwungu

Insiden tersebut terjadi di sekitar tikungan jalan dekat depo ban di wilayah Desa Krajan Kulon, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kendal.

Lokasi tersebut menjadi titik berkumpulnya sejumlah pemuda pada malam hari. Saat patroli berlangsung, polisi menerima laporan dari warga mengenai adanya keributan antar kelompok remaja di area tersebut.

Baca Juga: Dalih Terancam Ditolak Hakim, Polisi Penembak Siswa di Semarang Divonis 15 Tahun Bui

3. Polisi Awalnya Mengamankan Kegiatan Ngangklang

Sebelum insiden terjadi, petugas kepolisian tengah melakukan pengamanan kegiatan ngangklang. Kegiatan ini merupakan tradisi masyarakat untuk membangunkan warga agar bersiap sahur selama bulan Ramadan.

Ngangklang biasanya dilakukan dengan menggunakan alat musik sederhana seperti kentongan, angklung, hingga panci yang dipukul secara bersama-sama oleh para pemuda yang berkeliling kampung.

4. Polisi Menerima Laporan Dugaan Tawuran

Saat patroli berlangsung, petugas menerima aduan dari warga terkait adanya dua kelompok remaja yang diduga akan terlibat tawuran.

Mendapat laporan tersebut, polisi segera menuju lokasi untuk mencegah terjadinya perkelahian yang bisa membahayakan masyarakat maupun para remaja itu sendiri.

5. Kerumunan Pemuda Sempat Membubarkan Diri

Ketika mobil patroli Polsek Kaliwungu tiba di lokasi, sebagian pemuda yang berada di sekitar tempat kejadian langsung membubarkan diri.

Namun situasi tidak sepenuhnya kondusif. Beberapa pemuda yang berada di lokasi justru bertindak agresif ketika diminta untuk meninggalkan tempat tersebut.

6. Kapolsek dan Anggota Diserang Pemuda

Alih-alih membubarkan diri, sejumlah pemuda justru melakukan tindakan anarkis. Kapolsek Kaliwungu bersama seorang anggotanya, Brigadir Hendy, menjadi sasaran pemukulan.

Dalam video yang beredar, terlihat beberapa pemuda melayangkan pukulan ke arah kepala Kapolsek. Bahkan salah satu anggota polisi juga sempat didorong hingga terjatuh saat mencoba melerai keributan.

AKP Nindya mengaku dirinya juga sempat terkena pukulan saat berusaha menenangkan situasi.

“Saya dan anggota sempat dipukuli saat berusaha melerai perkelahian dua kelompok pemuda di Desa Krajan Kulon,” ujarnya.

7. Pelaku Diduga dalam Kondisi Mabuk

Berdasarkan keterangan dari Kapolsek, pemuda yang melakukan pengeroyokan diduga berada dalam kondisi mabuk saat kejadian berlangsung.

Kondisi tersebut diduga memicu emosi para pelaku sehingga mereka bertindak agresif ketika ditegur oleh petugas kepolisian yang sedang menjalankan tugas.

8. Dua Pemuda Berhasil Ditangkap Polisi

Setelah situasi berhasil dikendalikan, polisi mengamankan dua pemuda yang diduga terlibat dalam pengeroyokan.

Kedua pelaku berinisial MH (20), warga Dukuh Gambiran, Desa Sumberejo, Kecamatan Kaliwungu, dan AF (18), warga Dukuh Kandangan, Desa Sarirejo, Kecamatan Kaliwungu.

Kapolres Kendal AKBP Hendry Susanto Sianipar memastikan keduanya telah diamankan di Polsek Kaliwungu untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut.

“Pelaku sudah kami amankan di Polsek Kaliwungu,” kata Kapolres, Senin (9/3/2026).

9. Polisi Masih Mendalami Motif dan Pelaku Lain

Pihak kepolisian saat ini masih melakukan pemeriksaan terhadap para pelaku untuk mengetahui motif pasti pengeroyokan tersebut.

Selain itu, polisi juga mendalami kemungkinan adanya pelaku lain yang terlibat dalam insiden tersebut. Dari hasil penyelidikan awal, pemukulan diduga dipicu rasa tersinggung pelaku saat ditegur petugas.

Kapolres Kendal juga menegaskan pihaknya akan menindak tegas setiap tindakan yang mengganggu keamanan masyarakat, terutama selama bulan Ramadan.

Ia juga mengimbau kepada para orang tua agar lebih memperhatikan aktivitas anak-anaknya, terutama pada malam hari.

“Jika tidak ada keperluan penting, sebaiknya tidak keluar malam hari. Kerumunan tanpa tujuan yang jelas bisa memicu potensi kerawanan,” tegasnya.

  Insiden pengeroyokan terhadap polisi ini menjadi perhatian publik karena terjadi saat aparat sedang menjalankan tugas menjaga keamanan masyarakat. Polisi berharap masyarakat dapat mengisi bulan Ramadan dengan kegiatan positif agar situasi keamanan tetap kondusif.

Kontributor : Dinar Oktarini

Load More