Budi Arista Romadhoni
Minggu, 15 Maret 2026 | 20:01 WIB
Ilustrasi generasi Z yang melakukan buka puasa bersama. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Buka bersama kini menjadi ajang pembuktian sosial dan pamer pencapaian hidup, khususnya dengan teman lama.
  • Generasi Z menghadapi tekanan sosial dari dunia digital yang memicu kecemasan akan status dan masa depan.
  • Riset menunjukkan Gen Z memiliki tiga tipologi berbeda; pemahaman ini penting untuk strategi komunikasi yang tepat.

Ketika percakapan hanya fokus pada keberhasilan tertentu, orang yang berada di posisi berbeda sering kali merasa tertinggal, bahkan terasing.

Apalagi jika topik yang dibicarakan mulai nyerempet bidang pekerjaan yang tidak dipahami teman lainnya. “Ada teman yang cerita detail tentang pekerjaannya. Tapi yang lain tidak paham karena bidangnya kerjanya beda.”

Situasi seperti itu membuatnya kadang mempertanyakan kembali tujuan buka bersama. “Sebenarnya ikut bukber itu salah enggak sih?” ujarnya sambil tertawa kecil. “Sebenarnya capek juga.”

Capek menjelaskan perjalanan hidup kepada orang lain. Capek mendengar cerita keberhasilan maupun keluhan dari banyak orang dalam satu waktu.

Rindu Bukber Nostalgia

Ilustrasi buka bersama (Freepik/freepik)

Padahal bagi Naila, harapan dari pertemuan buka bersama sebenarnya sederhana. Merindukan percakapan ringan yang mengingatkan pada masa lalu.

Misalnya mengingat kembali kebiasaan teman semasa kuliah atau sekolah. Siapa yang sering terlambat masuk kelas, siapa yang suka menyontek, atau cerita-cerita kecil yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.

“Yang saya harapkan sebenarnya kita bisa flashback. Kalau bicara masa lalu itu malah jadi hiburan sendiri.”

Namun dalam banyak pertemuan, momen seperti itu jarang muncul. Alih-alih bernostalgia, percakapan justru dipenuhi cerita tentang pekerjaan, karier, dan kehidupan keluarga.

Baca Juga: FWD Day Dorong Generasi Muda Jadi Lebih Kompetitif Lewat Literasi Keuangan di Undip

Karena itu, Naila kini cenderung lebih selektif menghadiri acara reuni. Apalagi dia sekarang merantau dan tidak lagi sering berkomunikasi dengan teman-teman lamanya.

Pengalaman Naila mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas di kalangan generasi muda. Terutama mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 atau dikenal sebagai Generasi Z.

Pendiri sekaligus peneliti Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, mengatakan generasi muda Indonesia memiliki karakter yang jauh lebih beragam dari yang sering dibayangkan.

Tipologi Anak Muda

Berdasarkan riset Alvara, setidaknya terdapat tiga tipologi anak muda di Indonesia. Tipologi pertama adalah mereka yang sangat aktif secara sosial, yang disebut sebagai “Social Butterfly”.

Kelompok ini biasanya memiliki jaringan pertemanan luas dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Jumlah mereka sekitar 29,7 persen dari totak populasi Gen Z.

Load More