- Buka bersama kini menjadi ajang pembuktian sosial dan pamer pencapaian hidup, khususnya dengan teman lama.
- Generasi Z menghadapi tekanan sosial dari dunia digital yang memicu kecemasan akan status dan masa depan.
- Riset menunjukkan Gen Z memiliki tiga tipologi berbeda; pemahaman ini penting untuk strategi komunikasi yang tepat.
Ketika percakapan hanya fokus pada keberhasilan tertentu, orang yang berada di posisi berbeda sering kali merasa tertinggal, bahkan terasing.
Apalagi jika topik yang dibicarakan mulai nyerempet bidang pekerjaan yang tidak dipahami teman lainnya. “Ada teman yang cerita detail tentang pekerjaannya. Tapi yang lain tidak paham karena bidangnya kerjanya beda.”
Situasi seperti itu membuatnya kadang mempertanyakan kembali tujuan buka bersama. “Sebenarnya ikut bukber itu salah enggak sih?” ujarnya sambil tertawa kecil. “Sebenarnya capek juga.”
Capek menjelaskan perjalanan hidup kepada orang lain. Capek mendengar cerita keberhasilan maupun keluhan dari banyak orang dalam satu waktu.
Rindu Bukber Nostalgia
Padahal bagi Naila, harapan dari pertemuan buka bersama sebenarnya sederhana. Merindukan percakapan ringan yang mengingatkan pada masa lalu.
Misalnya mengingat kembali kebiasaan teman semasa kuliah atau sekolah. Siapa yang sering terlambat masuk kelas, siapa yang suka menyontek, atau cerita-cerita kecil yang dulu menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari.
“Yang saya harapkan sebenarnya kita bisa flashback. Kalau bicara masa lalu itu malah jadi hiburan sendiri.”
Namun dalam banyak pertemuan, momen seperti itu jarang muncul. Alih-alih bernostalgia, percakapan justru dipenuhi cerita tentang pekerjaan, karier, dan kehidupan keluarga.
Baca Juga: FWD Day Dorong Generasi Muda Jadi Lebih Kompetitif Lewat Literasi Keuangan di Undip
Karena itu, Naila kini cenderung lebih selektif menghadiri acara reuni. Apalagi dia sekarang merantau dan tidak lagi sering berkomunikasi dengan teman-teman lamanya.
Pengalaman Naila mencerminkan perubahan sosial yang lebih luas di kalangan generasi muda. Terutama mereka yang lahir antara tahun 1997 hingga 2012 atau dikenal sebagai Generasi Z.
Pendiri sekaligus peneliti Alvara Research Center, Hasanuddin Ali, mengatakan generasi muda Indonesia memiliki karakter yang jauh lebih beragam dari yang sering dibayangkan.
Tipologi Anak Muda
Berdasarkan riset Alvara, setidaknya terdapat tiga tipologi anak muda di Indonesia. Tipologi pertama adalah mereka yang sangat aktif secara sosial, yang disebut sebagai “Social Butterfly”.
Kelompok ini biasanya memiliki jaringan pertemanan luas dan sangat aktif dalam berbagai kegiatan sosial. Jumlah mereka sekitar 29,7 persen dari totak populasi Gen Z.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Prodi Berpotensi Ditutup Imbas Fokus Industri Strategis Nasional
- 5 Parfum Scarlett yang Wanginya Paling Tahan Lama, Harga Terjangkau
- Perjalanan Terakhir Nuryati, Korban Tragedi KRL Bekasi Timur yang Ingin Menengok Cucu
- Membedah 'Urat Nadi' Baru Lampung: Shortcut 37 KM dan Jalur Ganda Siap Usir Macet Akibat Babaranjang
- 5 Rekomendasi Sepeda Roadbike Rp1 Jutaan, Cocok untuk Pemula hingga Harian
Pilihan
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
-
Mantan Istri Andre Taulany Dilaporkan ke Polisi, Diduga Aniaya Karyawan
-
Stasiun Bekasi Timur akan Kembali Beroperasi Lagi Siang Ini
-
Truk Tangki BBM Meledak Hebat di Banyuasin, 4 Pekerja Terbakar saat Api Membumbung Tinggi
-
RS Polri Berhasil Identifikasi 10 Jenazah Korban Tabrakan Kereta di Bekasi Timur, Ini Nama-namanya
Terkini
-
Kondisi Geopolitik Beresiko, BRI Catatkan Kinerja Positif di Triwulan I 2026
-
Sinyal Revolusi PSIS: Isu Kembalinya King Hari Nur dan Septian David Mencuat
-
Sehari Dipasang Langsung Jebol, Portal Pembatas Ketinggian Ngaliyan Tuai Kritik Warga Semarang
-
Waspada Cuaca Ekstrem di Jateng Kamis Ini, Semarang Bakal Diguyur Hujan Sedang
-
Si Jago Merah di Kompleks Johar: Pasar Kanjengan Semarang Terbakar Hebat, 200 Kios Ludes