Budi Arista Romadhoni
Selasa, 17 Maret 2026 | 11:09 WIB
Ilustrasi kasus pengeroyokan pemuda. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Seorang pemuda 19 tahun dikeroyok rombongan tongtek saat mencari makan sahur di Pati, 16 Maret 2026 dini hari.
  • Pengeroyokan di Desa Ngagel diduga bermula dari provokasi antar desa yang dilontarkan salah satu anggota rombongan tongtek.
  • Korban luka akibat lemparan batu dan jatuh setelah dikejar; polisi kini sedang menyelidiki serta mengumpulkan bukti.

SuaraJawaTengah.id - Tradisi tongtek atau kegiatan membangunkan sahur kembali memakan korban di Kabupaten Pati, Jawa Tengah. Seorang pemuda berusia 19 tahun dilaporkan menjadi korban pengeroyokan saat melintas di lokasi rombongan tongtek pada Minggu dini hari, 16 Maret 2026.

Insiden tersebut terjadi di wilayah Desa Ngagel, Kecamatan Dukuhseti, Kabupaten Pati sekitar pukul 02.30 WIB. Korban yang diketahui berinisial MAS mengalami luka setelah dikeroyok oleh sekelompok pemuda yang sedang melakukan kegiatan tongtek.

Berikut sejumlah fakta penting terkait tragedi tongtek yang kembali terjadi di wilayah Pati.

1. Terjadi Saat Korban Mencari Makan Sahur

Peristiwa pengeroyokan terjadi ketika korban bersama dua rekannya sedang mencari warung untuk makan sahur.

Korban MAS yang berusia 19 tahun merupakan warga Desa Gerogolan, Kecamatan Dukuhseti. Saat kejadian, ia berboncengan sepeda motor bersama dua temannya, yakni BDS berusia 20 tahun dan LAO berusia 17 tahun.

Ketiganya menggunakan sepeda motor jenis matik dengan posisi berboncengan tiga orang.

Ketika melintas di perempatan Mantriono, Desa Ngagel, mereka berpapasan dengan rombongan pemuda yang sedang melakukan kegiatan tongtek atau membangunkan warga untuk sahur.

Situasi yang awalnya biasa saja kemudian berubah menjadi konflik yang berujung pada aksi kekerasan.

Baca Juga: OTT Bupati Sudewo, KPK Amankan Rp2,6 Miliar! Inilah Alur Pemerasan Jabatan Perangkat Desa di Pati

2. Diduga Dipicu Provokasi Antar Desa

Menurut keterangan kepolisian, peristiwa pengeroyokan diduga bermula dari provokasi yang dilontarkan oleh salah satu anggota rombongan tongtek.

Saat korban dan teman temannya berpapasan dengan rombongan tersebut, salah satu pemuda dari kelompok tongtek diduga meneriakkan nama desa asal korban.

Teriakan tersebut diduga memicu sentimen antar desa yang kemudian membuat situasi memanas.

Setelah provokasi tersebut terjadi, beberapa pemuda dari rombongan tongtek langsung mendekati korban dan berusaha melakukan pemukulan.

Diperkirakan ada sekitar enam orang yang terlibat dalam upaya pengeroyokan tersebut.

3. Korban Dikejar dan Diadang di Jalan

Melihat situasi yang mulai tidak kondusif, korban bersama dua rekannya mencoba menghindari keributan dengan mempercepat laju sepeda motor.

Namun para pelaku tidak berhenti sampai di situ.

Korban justru dikejar oleh sekelompok pemuda tersebut hingga akhirnya diadang dari arah depan dan belakang.

Saat itulah pengeroyokan terjadi. Para pelaku tidak hanya melakukan pemukulan, tetapi juga melemparkan batu ke arah korban.

Salah satu batu yang dilempar mengenai wajah korban sehingga menyebabkan luka.

Selain itu, dalam proses pengejaran terjadi senggolan antara sepeda motor korban dan pelaku yang menyebabkan kendaraan korban terjatuh di jalan.

4. Korban Mengalami Luka Akibat Lemparan Batu

Akibat pengeroyokan tersebut, korban mengalami sejumlah luka.

Luka tersebut disebabkan oleh lemparan batu yang mengenai wajah korban serta benturan saat sepeda motor yang dikendarainya terjatuh.

Setelah kejadian tersebut, korban segera mendapatkan penanganan medis untuk mengobati luka yang dialaminya.

Meski mengalami luka luka, korban masih dalam kondisi sadar dan dapat melaporkan kejadian tersebut kepada pihak kepolisian.

5. Polisi Lakukan Penyelidikan dan Kumpulkan Bukti

Setelah menerima laporan dari korban, pihak kepolisian langsung melakukan sejumlah langkah penyelidikan.

Polisi mulai dengan menerima laporan pengaduan, memeriksa para pelapor, serta melakukan olah tempat kejadian perkara.

Selain itu, petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti untuk mendukung proses penyelidikan.

Barang bukti tersebut antara lain pakaian korban, dokumentasi luka korban, serta rekaman CCTV dan video lain yang berkaitan dengan peristiwa tersebut.

Saat ini pihak kepolisian masih berupaya mengidentifikasi para pelaku yang terlibat dalam pengeroyokan tersebut.

Polisi juga memeriksa sejumlah saksi dan mengumpulkan bukti tambahan guna mengungkap pelaku secara jelas.

Apabila identitas pelaku telah diketahui, pihak kepolisian memastikan bahwa proses hukum akan segera dilakukan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.

Tradisi Tongtek Kembali Jadi Sorotan

Insiden ini kembali menyoroti tradisi tongtek yang kerap dilakukan masyarakat saat bulan Ramadan untuk membangunkan warga sahur.

Tradisi tersebut sebenarnya sudah lama menjadi bagian dari budaya masyarakat di sejumlah daerah di Jawa.

Namun dalam beberapa kasus, kegiatan yang seharusnya menjadi tradisi kebersamaan tersebut justru berujung konflik antar kelompok pemuda.

Bahkan beberapa hari sebelumnya juga dilaporkan terjadi peristiwa serupa di wilayah lain di Kabupaten Pati yang sampai menyebabkan korban meninggal dunia.

Karena itu, banyak pihak berharap kegiatan tongtek dapat dilakukan secara lebih tertib agar tidak menimbulkan konflik yang merugikan masyarakat.

Kontributor : Dinar Oktarini

Load More