- Pengadilan Agama Cilacap mencatat lonjakan angka perceraian dengan lebih dari 1.000 kasus selama periode Januari hingga April 2026.
- Faktor ekonomi menjadi pemicu utama keretakan rumah tangga, yang mengakibatkan mayoritas istri mengajukan cerai gugat dibandingkan pihak suami.
- Kemandirian finansial istri, termasuk kelompok tenaga kerja wanita, berkontribusi signifikan terhadap peningkatan jumlah gugatan perceraian di wilayah tersebut.
SuaraJawaTengah.id - Tekanan ekonomi yang kian berat terbukti menjadi "pembunuh" utama keharmonisan rumah tangga di Kabupaten Cilacap, Jawa Tengah.
Fenomena ini tercermin dari lonjakan drastis angka perceraian di wilayah tersebut, di mana Pengadilan Agama (PA) Cilacap mencatat rata-rata 60 hingga 70 perkara cerai baru masuk setiap harinya di awal tahun 2026 ini. Yang mengejutkan, mayoritas inisiatif untuk berpisah justru datang dari pihak istri.
Hakim sekaligus Pejabat Humas PA Cilacap, AF Maftukhin, mengungkapkan data yang mengkhawatirkan. Hanya dalam kurun waktu empat bulan, yakni Januari hingga April 2026, total perkara yang masuk telah menembus angka 2.000 kasus lebih.
"Kalau diakumulasi, perkara yang masuk lebih dari 2.000. Dan untuk perceraian sudah di atas 1.000 kasus," ungkap Maftukhin dikutip dari ANTARA Senin (4/5/2026).
Dari ribuan kasus perceraian tersebut, terjadi ketimpangan yang signifikan antara cerai talak (diajukan suami) dan cerai gugat (diajukan istri).
Data menunjukkan para istri di Cilacap kini lebih berani mengambil keputusan untuk mengakhiri pernikahan yang dirasa sudah tidak sehat, terutama karena alasan finansial.
"Didominasi oleh cerai gugat, jumlahnya sekitar 1.500-an. Artinya, mayoritas pengajuan perceraian berasal dari pihak perempuan," jelasnya, seraya membandingkan dengan cerai talak yang hanya sekitar 400 perkara.
Maftukhin menegaskan, meskipun ada faktor lain seperti kehadiran orang ketiga, masalah dapur tetap menjadi pemicu keretakan yang paling dominan.
"Alasan ekonomi masih menjadi yang utama, kemudian disusul faktor perselingkuhan atau pihak ketiga. Kalau kekerasan dalam rumah tangga, persentasenya relatif kecil," tambahnya.
Baca Juga: Alarm Darurat Kampus! Mahasiswa UNNES-PMII Salatiga Gerak Cepat Lawan Kekerasan Seksual
Fenomena TKW Menggugat Cerai
Lebih dalam lagi, Maftukhin menyoroti fenomena sosiologis menarik terkait tingginya angka cerai gugat di Cilacap. Adanya pergeseran peran ekonomi di mana banyak istri menjadi tulang punggung keluarga dengan bekerja sebagai Tenaga Kerja Wanita (TKW) atau pekerja migran di luar negeri, turut berkontribusi besar.
Kemandirian finansial yang didapat di negeri orang, atau sebaliknya, kekecewaan terhadap suami yang dinilai tidak produktif di kampung halaman saat istri bekerja keras di luar negeri, menjadi pendorong kuat.
"Banyak juga dari kalangan TKW. Biasanya berkaitan dengan ekonomi, tapi tidak sedikit juga karena munculnya pihak ketiga," ujar Maftukhin.
Ia memperkirakan, perkara yang melibatkan TKW ini menyumbang lebih dari 30 persen dari total cerai gugat.
Dengan estimasi total perkara mencapai 7.000 kasus per tahun, Cilacap masih bertahan sebagai salah satu daerah dengan tingkat perceraian tertinggi di Jawa Tengah. Maftukhin mengingatkan bahwa di balik angka-angka statistik ini, ada dampak sosial serius yang menanti generasi penerus.
Berita Terkait
Terpopuler
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- Motor Baru Harley-Davidson Harga Cuma Rp40 Jutaan, Tenaga Setara Motor 250cc
- 4 Rekomendasi Tablet Mini Serbaguna: Nyaman Digenggam, Muat Tas Kecil
- Viva Sunscreen Foundation SPF Berapa? Banyak Dapat Review Positif dari Pengguna
- KPK Ungkap Dugaan Modus 'Pinjam Bendera' di Proyek Gedung Pemkab Lamongan Rp151 Miliar
Pilihan
-
Dasco di Mobil Komando Aksi: Aspirasi Kawan-kawan Sudah Disampaikan, Hidup Mahasiswa!
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
Terkini
-
Fenomena Bediding Mulai Terasa, BMKG Minta Warga Jateng Bersiap
-
SIG dan Semen Gresik Giatkan Penanaman Pohon di Kawasan Joglo Tani Pabrik Rembang
-
Pakar Hukum Unsoed Buka Suara Soal Penipuan Eks Pegawai Bank di Purwokerto
-
UMKM Jadi Fondasi Ekonomi, Ahmad Luthfi Tekankan Penguatan Pembiayaan
-
Musim Libur Sekolah, Pertamina Pastikan Stok BBM di SPBU Jateng dan DIY Aman