Budi Arista Romadhoni
Kamis, 02 April 2026 | 10:49 WIB
Ilustrasi Soto kuali legendaris Mbah Sumarsono Wonosobo. [Dok Suara.com/AI]
Baca 10 detik
  • Soto Kuali Mbah Sumarsono di Wonosobo telah beroperasi sejak tahun 1965 melalui perjalanan usaha yang panjang.
  • Margono meneruskan usaha kuliner keluarga ini dengan mempertahankan resep tradisional menggunakan delapan belas jenis rempah alami.
  • Warung yang berlokasi di Jalan Watumalang ini menarik banyak pelanggan dengan penyajian soto berkuah khas kuali.

SuaraJawaTengah.id - Di tengah deretan warung sederhana di Wonosobo, ada satu kuliner yang terus bertahan lintas generasi. Warung Soto Kuali Mbah Sumarsono yang berada di tepi Jalan Watumalang–Wonosobo Kilometer 3, Desa Bumiroso, nyaris tak pernah sepi pengunjung.

Bukan sekadar tempat makan, warung ini menyimpan cerita panjang tentang perjuangan, konsistensi rasa, dan kekuatan tradisi yang terus hidup hingga hari ini. Berikut sejumlah fakta menarik di balik legenda soto kuali tersebut.

1. Berawal dari Jualan Keliling Sejak 1965

Perjalanan Soto Kuali Mbah Sumarsono dimulai sejak tahun 1965. Saat itu, Mbah Sumarsono belum memiliki warung tetap dan berjualan dengan cara dipikul, berkeliling kampung di Wonosobo.

Jalanan yang dilalui bahkan masih belum beraspal. Namun, hal tersebut tidak menyurutkan semangatnya untuk menjajakan soto dari satu tempat ke tempat lain.

“Dulu keliling dipikul, muter-muter sampai ke Wonosobo,” ujar Margono, anak Mbah Sumarsono yang kini meneruskan usaha tersebut.

Kini, pikulan tersebut direplika dan ditempatkan di depan warung sebagai simbol sejarah perjalanan usaha yang dimulai dari nol.

2. Tetap Eksis dan Diteruskan Generasi Keluarga

Dari delapan anak Mbah Sumarsono, hanya Margono yang memilih melanjutkan usaha kuliner ini. Ia menjadi generasi penerus yang menjaga keberlangsungan warung sekaligus mempertahankan identitas rasa.

Baca Juga: 10 Kuliner Legendaris Pemalang yang Wajib Dikunjungi Akhir Pekan Ini

“Dari delapan anak ini usahanya beda-beda, hanya saya yang meneruskan soto kuali,” ungkap Margono.

Sejak Mbah Sumarsono wafat pada 2022, tanggung jawab penuh berada di tangan Margono. Ia tidak hanya mempertahankan resep, tetapi juga cara memasak dan pelayanan yang telah dibangun puluhan tahun.

3. Menggunakan Lebih dari 18 Jenis Rempah Alami

Salah satu rahasia kelezatan soto kuali ini terletak pada racikan bumbunya. Margono menyebutkan bahwa soto ini menggunakan lebih dari 18 jenis rempah alami.

Beberapa di antaranya seperti kunyit, jahe, daun salam, dan laos. Semua bumbu tersebut diolah secara tradisional, yakni diulek untuk menjaga keaslian rasa.

“Bumbunya alamiah, tidak pakai bahan pengawet,” jelasnya.

Proses memasaknya pun tidak instan. Bumbu dimasak bersama daging hingga menghasilkan aroma harum yang kuat dan khas.

4. Dimasak dengan Teknik Khas Menggunakan Kuali Tanah Liat

Ciri khas utama dari soto ini adalah penggunaan kuali tanah liat sebagai wadah memasak. Setelah dimasak di kompor, kuah soto dipindahkan ke dalam kuali yang dipanaskan menggunakan arang.

Teknik ini dipercaya mampu menjaga kestabilan panas sekaligus memperkuat cita rasa rempah.

Meski saat ini kuali tanah liat sedang dalam proses penggantian karena rusak, Margono memastikan rasa soto tetap terjaga meski sementara menggunakan panci biasa.

Aroma kuah yang keluar saat tutup panci dibuka tetap menjadi daya tarik utama yang langsung menyambut pengunjung.

5. Disajikan dengan Lontong dan Cita Rasa yang Kuat

Berbeda dari soto pada umumnya, soto kuali ini disajikan dengan lontong sebagai sumber karbohidrat, bukan nasi.

Lontong dipotong kecil-kecil, lalu disajikan bersama potongan daging sapi berbentuk dadu dan tauge segar. Kuah kuning keemasan yang panas kemudian disiramkan, menghasilkan tampilan yang menggugah selera.

Sebagai pelengkap, ditambahkan bawang goreng dan irisan daun bawang.

Rasanya dikenal gurih dengan dominasi rempah yang seimbang. Dagingnya empuk, sementara tauge memberikan sensasi segar.

Pembeli juga bisa menambahkan sambal atau kecap sesuai selera.

Tetap Ramai Pembeli dari Berbagai Daerah

Warung ini tidak hanya dikenal oleh warga lokal Wonosobo. Banyak pelanggan datang dari luar daerah seperti Temanggung, Magelang, Yogyakarta, Purwokerto, hingga Banjarnegara.

“Seluruh Wonosobo sepertinya semuanya tahu soto kuali ini,” kata Margono.

Dalam kondisi normal, warung ini mampu menjual sekitar 100 hingga 150 porsi per hari. Bahkan untuk acara tertentu seperti hajatan atau pengajian, jumlah pesanan bisa mencapai 500 porsi.

Konsisten Jaga Rasa di Tengah Perubahan Zaman

Di tengah banyaknya kuliner modern, Soto Kuali Mbah Sumarsono tetap bertahan dengan konsep sederhana dan harga terjangkau, yakni sekitar Rp13 ribu per porsi.

Bagi Margono, kunci utama bertahan bukan hanya soal rasa, tetapi juga kualitas dan pelayanan.

“Yang penting dijaga rasanya, pelayanannya, kualitasnya,” tegasnya.

Soto Kuali Mbah Sumarsono bukan sekadar makanan, tetapi juga warisan kuliner yang mencerminkan ketekunan dan konsistensi selama puluhan tahun.

Dari pikulan sederhana hingga menjadi kuliner legendaris, kisah ini membuktikan bahwa rasa autentik dan komitmen bisa bertahan melampaui waktu.

Kontributor : Dinar Oktarini

Load More