- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, mendesak penguatan harga hasil pertanian guna meningkatkan kesejahteraan dan mencegah alih fungsi lahan.
- Pemerintah menargetkan 87% Lahan Baku Sawah menjadi Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan sesuai Perpres Nomor 4 Tahun 2026.
- Pemerintah daerah diminta tidak memprioritaskan sektor komersial agar stabilitas pangan nasional tetap terjaga bagi kebutuhan penduduk yang meningkat.
SuaraJawaTengah.id - Harga hasil pertanian pangan dan perlindungan terhadap petani perlu terus dikuatkan secara berkelanjutan.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, langkah tersebut, selain meningkatkan kesejahteraan petani, juga menjadi salah satu cara mencegah terjadinya alih fungsi lahan.
“Jika tidak ada perlindungan atau peningkatan nilai ekonomi, masyarakat tentu akan lebih memilih memanfaatkan lahan yang ada untuk usaha lain, dibandingkan harus menanam padi atau jagung,” ungkapnya.
Kakung sapaan akrab Sarif menegaskan bahwa sektor pertanian merupakan fondasi masa depan bangsa yang harus dijaga secara serius.
“Oleh karena itu, pemerintah bersama seluruh stakeholder terkait harus terus menerus menghentikan praktik alih fungsi lahan yang bisa menggerus ruang produksi pertanian,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Sejauh ini, kata Kakung, telah ada Peraturan Presiden (Perpres) Nomor 4 Tahun 2026, tentang Pengendalian Alih Fungsi Lahan Sawah menetapkan target 87% total Lahan Baku Sawah (LBS) untuk ditetapkan sebagai Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B).
“Tapi ini bukan semata persoalan teknis tata ruang atau lingkungan. Harus dijalankan secara komprehensif, semisal bagaimana pemerintah terus menghargai hasil produksi petani tersebut,” terangnya.
Kakung sepakat, alih fungsi lahan pertanian tidak boleh lagi dibiarkan. Sebab hal tersebut dapat mengancam stabilitas pangan.
“Dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kebutuhan pangan ikut naik sehingga lahan pertanian harus tetap terjaga bahkan ditambah,” terang legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Jateng Minta Pertumbuhan Ekonomi Harus Benar-benar Dirasakan Rakyat
Di satu sisi, Kakung juga meminta pemerintah daerah (Pemda) tidak bersifat pragmatis, yakni melihat potensi sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD) hanya dari sektor retribusi. Pertanian jangan dianggap tidak profitable atau tidak cukup mampu mendongkrak PAD.
“Pemda jangan hanya tertarik untuk membangun perumahan, hotel, restoran dan tempat-tempat hiburan. Kalau ini dibiarkan, maka cepat atau lambat lahan pertanian akan habis,” tegasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- Amplop Raja Juli Menyusut SGD2.000, KPK Buka Peluang Periksa Ajudan hingga Kapolres Kuansing
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- Contoh Teks Sambutan Ketua RT Malam Tirakatan 17 Agustus yang Singkat, dan Penuh Makna
- 4 Rice Cooker Mini Murah yang Cepat Matang dan Hemat Listrik Sesuai Review Pembeli
Pilihan
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
-
Hadiri Sidang Tahunan, Intip Gaya Prabowo dan Gibran saat Tiba di Gedung Parlemen Senayan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
Terkini
-
Dukung Semangat Berbagai Generasi Muda, Semen Gresik Bersama FORSA Hadirkan Keceriaan Puluhan Siswa
-
Usai Pidato Presiden, Gubernur Ahmd Luthfi Tegaskan Satu Tujuan: Sejahterakan Rakyat
-
SMPN 1 Blora dan Dinas Pendidikan Telusuri Dugaan Perundungan Siswa Kelas IX
-
Sidang Korupsi Fadia Arafiq Ungkap Dugaan Pencopotan Outsourcing Bermotif Politik
-
BRImo Makin Diminati, 49,7 Juta Pengguna dan Transaksi Rp4.166 Triliun