Budi Arista Romadhoni
Rabu, 08 April 2026 | 16:52 WIB
Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi saat berkunjung di di Puskesmas Klaten Tengah, Kabupaten Klaten, Rabu, 8 April 2026. [Dok Humas]
Baca 10 detik
  • Dinas Kesehatan Jawa Tengah mencatat 2.188 kasus suspek campak selama periode Januari hingga 7 April 2026.
  • Pemprov Jawa Tengah menggalakkan imunisasi massal dan deteksi dini secara masif di berbagai kabupaten dan kota.
  • Gubernur Ahmad Luthfi mengimbau masyarakat segera melengkapi vaksinasi anak serta menjaga pola hidup sehat guna pencegahan.

"Campak ini menjadi prioritas utama, termasuk penyakit lain seperti tuberkulosis (TBC) yang juga masuk prioritas nasional. Harapannya masyarakat sehat," papar Luthfi, menunjukkan komitmen Pemprov dalam menjaga kesehatan warganya secara holistik.

Kepala Bidang Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Dinas Kesehatan Jateng, Heri Purnomo, menjelaskan bahwa kasus suspek campak memang banyak ditemukan pada anak-anak.

Namun, ia juga mengingatkan bahwa orang dewasa dengan kondisi imunitas rendah juga berisiko terkena.

"Pencegahan paling penting imunisasi, terus kalau sakit pakai masker, isolasi, dan jaga jarak. Juga pola hidup sehat dan makanan yang meningkatkan imunitas," ujarnya, memberikan panduan komprehensif untuk pencegahan dan pengendalian.

Respons positif datang dari masyarakat. Salah seorang warga, Kiki Kumala, yang mengantar anaknya imunisasi di Puskesmas Klaten Tengah, menyatakan bahwa kegiatan imunisasi campak ini sangat penting bagi anak.

"Kita cuma bisa mendukung dan membantu program pemerintah yang ada, apalagi ini gratis atau tidak berbayar. Semoga ke depan lebih baik dalam mendukung kesehatan anak," katanya.

Dukungan dan partisipasi aktif masyarakat seperti Kiki Kumala ini menjadi kunci keberhasilan program imunisasi dan deteksi dini yang digalakkan Pemprov Jateng. Dengan sinergi antara pemerintah dan masyarakat, diharapkan ancaman campak di Jawa Tengah dapat segera teratasi dan kesehatan anak-anak dapat terlindungi.

Load More