- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah melaporkan penurunan drastis produksi susu nasional di wilayah Jawa Tengah sejak 2021.
- Penyebab rendahnya produksi susu lokal meliputi terbatasnya populasi sapi perah serta penyebaran wabah Penyakit Mulut dan Kuku.
- Pemerintah didorong membangun ekosistem berkelanjutan melalui peningkatan kapasitas peternak dan adopsi teknologi modern untuk mencapai ketahanan pangan.
SuaraJawaTengah.id - Produksi susu di Jawa Tengah perlu kembali ditingkatkan. Keberadaannya bisa menambah pemenuhan protein hewani masyarakat.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan selama ini, produksi Susu Segar Nasional di Jawa Tengah menempati urutan ke-3 Nasional setelah Provinsi Jawa Timur dan Jawa Barat.
“Sayangnya dari data yang ada, dari tahun ke tahun jumlah produksi mengalami penurunan,” ungkapnya.
Data Badan Pusat Statistik (BPS), produksi susu di Jawa Tengah pada 2021 lalu mencapai 104.421.950,33 kg. Namun angka itu menurun menjadi 74.809.792,75 kg di tahun 2024, dan 65.310.739,81 kg di tahun 2025.
“Kondisi ini tentu harus menjadi perhatian serius semua pemangku kepentingan,” sebut Kakung, sapaan akrab Sarif Abdillah.
Atas dasar itu, kata Kakung, semua pemangku kepentingan harus membangun ekosistem industri susu yang lebih berkelanjutan, agar produksi kembali meningkat.
“Jika semua bekerja sama dan fokus pada peningkatan kapasitas peternak, ketahanan pangan di sektor susu bisa tercapai,” jelas politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Bagi peternak, jelas Kakung, dukungan dari pemerintah dapat berdampak langsung pada peningkatan produktivitas dan kualitas susu.
“Termasuk misalnya, penguatan fasilitas seperti pendingin susu, sarana distribusi, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia diyakini mampu meningkatkan nilai tambah produk sekaligus memperluas akses pasar,” kata legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Kakung tak menampik, ketergantungan pemerintah dalam impor susu masih sangat tinggi. Tercatat, 80% bahan baku susu di Indonesia berasal dari impor dan sisanya 20% dari produksi lokal.
Baca Juga: Viral Nenek Selamat di Zebra Cross Temanggung: 5 Fakta Insiden Rem Mendadak yang Picu Tabrakan
Ketergantungan tinggi ini, kata Kakung, disebabkan masih rendahnya populasi sapi perah, maupun munculnya wabah Penyakit Mulut dan Kuku (PMK).
“Kurangnya biosekuriti di peternakan rakyat mempercepat penyebaran penyakit ini. Satu sisi, banyak peternak yang tidak menyadari pentingnya biosekuriti ini,” katanya.
Karena itu, menurut Kakung, dengan adanya kehadiran negara, harapannya berbagai masalah tersebut benar-benar tuntas.
“Misalnya bisa adopsi teknologi modern dalam pengelolaan kandang, seperti sistem ventilasi yang baik dan penggunaan kipas, menjadi hal yang sangat diperlukan untuk menjaga kenyamanan sapi,” tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Cucu Diduga Bunuh Nenek di Palembang, Pelarian Pelaku Hanya Bertahan 50 Menit
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama