- Ribuan pencari kerja memadati Job Connect Fest 2026 di Kabupaten Magelang pada Rabu, 22 April 2026.
- Acara tersebut diselenggarakan untuk mengisi 2.103 lowongan kerja di tengah meningkatnya persaingan ketat antar pelamar.
- Krisis ekonomi global dan kenaikan harga bahan produksi memicu ancaman PHK massal pada berbagai sektor industri.
Perawat Satwa
Semakin terdesak kebutuhan, Danu nekat melamar kerja menjadi perawat satwa di Gembira Loka Zoo, Yogyakarta. Dia pikir jadi pawang satwa di kebun binatang mirip hobinya mengurus kucing di rumah.
“Sampai ditanyakan waktu interview, nanti kalau merawat singa gimana? Nggak apa-apa yang dibutuhkan saja. Sekarang yang penting kerja. Kalau nggak kerja gimana, susah juga.”
Pada Job Connect Fest 2026 yang digelar Pemerintah Kabupaten Magelang, Danu mengincar beberapa lowongan. Salah satunya kesempatan kerja yang ditawarkan PT Prima Karya Sarana Sejahtera.
Perusahaan outsourcing, anak usaha Yayasan Kesejahteraan Pekerja Bank Rakyat Indonesia (YKP BRI) dan Dana Pensiun itu memiliki 34 jaringan kerja di seluruh Indonesia.
Mereka bermitra dengan lebih dari 300 perusahaan, termasuk BUMN, swasta nasional, dan multinasional. Posisi kerja yang ditawarkan antara lain tenaga pengamanan, driver, cleaning service, front liner, hingga staf administrasi.
“Sama Argo Manteb. Katanya bergerak di bidang pertanian, tapi nggak masalah. Buat saya bagian apa saja, semua posisi. Bagian mana yang dibutuhkan saja.”
Terbatas Peluang Kerja
Persoalan Danu menjadi fakta lapangan yang sulit dibantah bahwa ketersediaan lapangan kerja menjadi isu krusial di tengah ketidakpastian ekonomi.
Baca Juga: Nelayan Tanpa Perahu di Sambeng, Menjaga Kali Progo dari Ancaman Tambang Tanah Urug
Dampak konflik Iran-Amerika dipastikan menekan industri lewat lonjakan harga minyak dunia. Krisis ekonomi di depan mata yang dikhawatirkan menyebabkan pemecatan massal.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) melaporkan ancaman pemutusan hubungan kerja terhadap sekitar 9 ribu buruh oleh sedikitnya 10 perusahaan.
Potensi pemecatan buruh diprediksi akan menyasar berbagai sektor industri manufaktur dalam jangka waktu 3 bulan ke depan.
Badai efisiensi diperkirakan menyapu sektor industri tekstil, garmen, plastik, otomotif, hingga petrokimia. Faktor utama yang memicu PHK buruh antara lain lonjakan harga BBM industri non-subsidi dan kenaikan harga bahan baku impor.
Konflik global yang menyebabkan turun-naik nilai tukar rupiah juga akan mendesak biaya produksi. Jalan pintas mengurangi biaya produksi biasanya dengan mengurangi jumlah pekerja.
Pengangguran Terbuka
Berita Terkait
Terpopuler
- Kenapa Maudy Ayunda Disebut Tak Napak Tanah? Ini Kronologinya
- Menteri Keuangan Purbaya Diganti Hari Ini? Wakilnya Sudah ke Istana Pakai Jas
- 3 Rekomendasi Helm Half Face Rp200 Ribuan yang Paling Dicari Bikers, Nyaman Buat Harian
- Resmi! Menkeu Purbaya Dicopot, Diganti Suahasil Nazara
- Defisit APBN 'Cuma' 0,91 Persen, Purbaya Khawatir Kementerian-Lembaga Minta Anggaran Tambahan
Pilihan
-
Purbaya Ogah Bicara Panjang Saat Sertijab Menkeu ke Suahasil: Terima Kasih Semua
-
Apa Salah Purbaya hingga Dipecat Lewat Panggilan Telepon?
-
Pejabat Kantor Pertanahan Terjaring OTT KPK di Jakarta dan Bogor
-
Dilantik Jadi Menkeu, Suahasil Akui Tak Berkomunikasi Dengan Purbaya
-
Purbaya Diganti, Nilai Tukar Rupiah Langsung Loyo ke Level Rp17.699
Terkini
-
Raih Predikat Prestisius Golden Medal 2026, Semen Gresik Pertahankan Bintang Lima TOP GRC
-
Pelabuhan Tanjung Emas Didorong Naik Kelas Jadi Gerbang Utama Ekspor-Impor
-
Kalah dari Persita, Fabio Lefundes: Java United FC Masih Berproses
-
Ketika Al-Qur'an Satukan Semua Golongan: Cerita Dibalik Megahnya MTQ Nasional di Jateng
-
Kendal Tornado FC Menangi Laga Perdana, Presiden Klub Ingin Tim Konsisten dan Disiplin