- Mantan Wali Kota Semarang Hevearita Gunaryati Rahayu dan suaminya mengajukan Peninjauan Kembali atas kasus korupsi mereka.
- Permohonan hukum tersebut telah didaftarkan di Pengadilan Tipikor Semarang dengan jadwal persidangan perdana pada 8 Mei 2026.
- Pengajuan PK didasarkan pada penemuan bukti baru atau novum serta dugaan kekhilafan hakim dalam putusan perkara sebelumnya.
SuaraJawaTengah.id - Babak baru drama hukum kasus korupsi yang menjerat mantan Wali Kota Semarang, Hevearita Gunaryati Rahayu atau yang akrab disapa Mbak Ita, kembali bergulir.
Tidak menerima begitu saja vonis yang telah dijatuhkan, Mbak Ita bersama suaminya, Alwin Basri, resmi melakukan perlawanan hukum dengan mengajukan upaya hukum luar biasa berupa Peninjauan Kembali (PK).
Dikutip dari Ayosemarang.com, langkah strategis ini ditempuh keduanya di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) pada Pengadilan Negeri Semarang.
Pengajuan PK ini menjadi sorotan tajam karena berpotensi mengubah putusan yang telah berkekuatan hukum tetap sebelumnya, jika majelis hakim PK mengabulkan permohonan mereka.
Juru Bicara Pengadilan Negeri Semarang, Hadi Sunoto, membenarkan adanya pendaftaran upaya hukum tersebut. Ia memastikan proses administrasi telah berjalan dan jadwal persidangan telah ditetapkan oleh pihak pengadilan.
"Sidang tanggal 8 Mei 2026," ungkapnya, dikutip Rabu 29 April 2026.
Manuver hukum yang dilakukan Mbak Ita dan Alwin Basri ini didasarkan pada dua alasan fundamental yang diatur dalam Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP).
Kubu mereka mengklaim telah menemukan novum atau keadaan baru yang belum pernah terungkap dalam persidangan sebelumnya.
Jika bukti baru ini diketahui pada saat sidang terdahulu, diyakini akan menghasilkan putusan yang berbeda, baik itu putusan bebas, lepas dari tuntutan hukum, atau tuntutan yang lebih ringan.
Baca Juga: Cuaca Semarang Jumat Ini 'Adem Ayem', BMKG Peringatkan Hujan Lebat di 5 Wilayah Lain
Selain novum, dasar pengajuan PK lainnya adalah adanya dugaan kekhilafan hakim atau suatu kekeliruan yang nyata dalam putusan sebelumnya.
Sebagai konteks, upaya hukum ini berkaitan langsung dengan perkara korupsi besar di lingkungan Pemerintah Kota Semarang yang telah memvonis pasangan suami istri tersebut bersalah.
Dalam putusan tingkat sebelumnya, Hevearita Gunaryati Rahayu harus menerima kenyataan pahit divonis 5 tahun penjara. Sementara suaminya, Alwin Basri, yang juga mantan Ketua Komisi D DPRD Jawa Tengah, dijatuhi hukuman yang lebih berat, yakni 7 tahun penjara dalam pusaran kasus yang sama.
Keduanya dinyatakan terbukti secara sah dan meyakinkan terlibat dalam praktik rasuah yang melibatkan pengaturan sejumlah proyek di lingkungan Pemkot Semarang.
Berdasarkan dakwaan yang disusun oleh Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan telah diuji di persidangan, pasangan ini disebut menerima aliran dana haram dalam bentuk gratifikasi dan suap.
Total nilai penerimaan yang didakwakan kepada mereka mencapai angka yang fantastis, yakni sekitar Rp9 miliar. Selain mereka berdua, kasus ini juga turut menyeret nama pihak swasta, yakni Martono serta Direktur Utama PT Deka Sari Perkasa, Rachmat Utama Djangkar.
Berita Terkait
Terpopuler
- Urutan Skincare Pagi Viva untuk Anti-Aging Usia 40 Tahun ke Atas, Rawat Kulit Awet Muda
- Sempat Diamankan saat OTT, Sestama BNPB Rustian Kini Diperiksa KPK di Gedung Merah Putih
- 3 Sepatu Lari Lokal untuk Full Marathon, Ini Spesifikasi dan Harganya
- Ramai Tren Downgrade Lifestyle, Desainer Pilih Bedakan Produk Retail dan Wastra
- Sering Dijual Lebih Murah, Apakah Sepatu di Sports Station Ori?
Pilihan
-
Salib Merah Besar ala Film 'Pesta Babi' Hiasi Demo Mahasiswa di Dukuh Atas, Ini Maknanya
-
Tertahan di Gedung UOB, Ketegangan Pecah Saat Mahasiswa Ngotot Tembus Bundaran HI
-
Lepas Jaket Almamater, Mahasiswa Melebur dalam Aksi di Bundaran HI
-
RM Soeharjo Djajengasmoro: Tokoh Penting Pemuda yang Didepak dari Kampus Sendiri karena Ijazah
-
'Partai Mahasiswa' Serbia Guncang Eropa! Kalahkan Rezim Lewat Pemilu
Terkini
-
Indosat Perkuat 5G di Semarang, Cakupan Capai 96 Persen, UMKM hingga Pengguna AI Jadi Sasaran
-
Tiga Insiden Terjadi di Porprov Jateng, KONI dan Panitia Evaluasi Prosedur Keselamatan Atlet
-
Viral Atlet Silat Kejang di Porprov Jateng, Wasit Dinilai Belum Berpengalaman
-
Jelang Akhir Tahun, Wakil Ketua DPRD Jateng Wanti-wanti Ancaman Kelangkaan dan Antrean BBM
-
Hati-hati! Wakil Ketua DPRD Jateng Peringatkan Bahaya Bullying di Sekolah