- Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Sarif Abdillah, mendesak pemerintah menyediakan ekosistem pendukung berkelanjutan bagi pelaku UMKM lokal.
- Sektor UMKM Jawa Tengah berkontribusi 20% terhadap investasi tahun 2025 namun masih menghadapi kendala penyerapan pasar yang rendah.
- Pemangku kepentingan perlu membangun kerja sama terstruktur untuk meningkatkan daya saing UMKM melawan serbuan produk impor murah.
SuaraJawaTengah.id - Pembinaan terhadap usaha mikro kecil menengah (UMKM) di Jawa Tengah diminta tidak bersifat parsial.
Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah Sarif Abdillah mengatakan, selama ini pelaku UMKM kerap diberikan pelatihan dan pendampingan, namun setelah itu dilepas tanpa ekosistem pendukung yang memadai.
“Jangan sekadar dalam bentuk pelatihan, tetapi juga melalui kebijakan, bagaimana penyerapan produk UMKM secara berkelanjutan,” ungkapnya.
Apalagi, kata Kakung, sapaan akrab Sarif, ada juga produk UMKM di provinsi ini yang juga sama dengan luar provinsi. Sehingga belum tentu bisa bersaing.
“Tanpa keberpihakan nyata, tentu UMKM akan sulit naik kelas. Karena itu, penyerapan produk ini harus benar-benar dipikirkan dengan matang,” sebut politikus Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini.
Keberadaan UMKM telah memberikan kontribusi positif bagi investasi di Jawa Tengah. Pada 2025, sektor tersebut mampu menyumbang 20% dari total investasi yang masuk di wilayah ini.
Kakung tak menampik, kreativitas dan kualitas produk UMKM di Jawa Tengah tidak perlu diragukan. Namun persoalan mendasar muncul setelah kualitas membaik, yakni soal penyerapan pasar.
“UMKM ini disebut tulang punggung. Tapi kalau tulang punggung ini tidak dipelihara, tidak diberi ruang, dan tidak diserap, tentu tidak bisa semakin berkembang,” katanya.
Apalagi, jelas Kakung, tantangan semakin berat ketika UMKM harus berhadapan dengan produk impor yang secara harga lebih murah dan diproduksi secara massal.
Baca Juga: Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Penguatan Bank Sampah di Tengah Lonjakan Harga Plastik
“Dalam kondisi tersebut, jika dilepas sepenuhnya ke mekanisme pasar bebas, pelaku UMKM kita tentu akan kesulitan bersaing,” jelas legislator dari daerah pemilihan (dapil) Banyumas dan Cilacap ini.
Kakung pun juga mendorong UMKM sebagai penopang ekonomi rakyat, sekaligus bagian integral dari ekosistem pariwisata.
“Misalnya sektor kuliner, maka bisa menjadi bagian penting dalam melengkapi kebutuhan wisatawan dan memperkuat daya tarik daerah masing-masing,” terangnya.
Kakung menegaskan bahwa kunci penguatan UMKM dan pariwisata terletak pada kerja sama yang solid antar pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha.
“Harus ada kerja sama yang nyata dan terstruktur agar UMKM Jawa Tengah tidak hanya banyak secara jumlah, tetapi juga kuat secara daya saing,” tandasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- Menteri PU Panggil Pulang ASN Tugas Belajar di London Diduga Hina Program MBG
- Honor X7d Resmi Meluncur di Indonesia, HP Tangguh 512GB, Baterai Awet 6500mAh, Harga Rp4 Jutaan
- 7 Parfum Tahan Lama di Indomaret, Wangi Mewah tapi Harga Ramah
- 5 Lipstik Wardah Tahan Lama dan Tidak Luntur Saat Makan, Cocok untuk Daily hingga Kondangan
- 5 HP Xiaomi Paling Murah 2026, Mulai Rp1 Juta Spesifikasi Mantap untuk Harian
Pilihan
-
Babak Baru The Blues: Menanti Sihir Xabi Alonso di Tengah Badai Pasang Surut Karirnya
-
Maut di Perlintasan! Kereta Hantam Bus di Bangkok hingga Terbakar, 8 Orang Tewas
-
Setahun Menggantung, Begini Nasib PSEL di Kota Tangsel: Pilih Mandiri, Tolak Aglomerasi
-
Di Tengah Maraknya Klitih, Korban Kejahatan di Jogja Harus Cari Penjamin Biaya Medis Sendiri
-
Admin Fansbase Bawa Kabur Duit Patungan Voting, Rio Finalis Indonesian Idol Tereliminasi
Terkini
-
Viral Curhatan Perempuan di Sleman Jadi Tersangka Usai Diputus Pacar Oknum Polisi, Kok Bisa?
-
Wakil Ketua DPRD Jateng Soroti Nasib UMKM: Susah Bersaing dengan Produk Impor
-
Buktikan Kualitas, Skuad Muda Kendal Tornado FC Borong Penghargaan di EPA Championship
-
PSIS Rombak Total Tim, Suporter Desak Boyong Pemain Lawas dari Arhan, Dewangga, hingga Fortes
-
Koperasi Merah Putih Tembus 6.271 Unit: Operasional di Jateng Tertinggi Nasional