Budi Arista Romadhoni
Senin, 15 Juni 2026 | 20:03 WIB
Aksi mahasiswa Semarang di halaman Gubernuran, Jalan Pahlawan, Kecamatan Semarang Selatan, Kota Semarang [Suara.com/Ilma Latif]
Baca 10 detik
  • Aliansi mahasiswa Semarang menggelar demonstrasi di depan kantor Gubernuran pada Senin, 15 Juni 2026 untuk memprotes kebijakan pusat.
  • Massa aksi menyuarakan lima tuntutan rakyat terkait ekonomi dan reformasi pemerintahan Presiden Prabowo Subianto serta Gibran Rakabuming Raka.
  • Aksi sempat diwarnai kericuhan saat aparat kepolisian menyemprotkan air menggunakan water canon untuk memadamkan pembakaran ban oleh mahasiswa.

5. Hapus dan hentikan praktik KKN di kabinet pemerintahan Prabowo-Gibran.

"Prosesi pembakaran ban dan jelangkung tadi adalah simbol bahwasanya kita memang sedang marah. Kita sudah konsolidasi berkali-kali, tapi tidak ada satu pun aksi yang ditemui dan ditindaklanjuti secara konkret. Kami ingin menarik atensi masyarakat bahwa Indonesia saat ini sedang tidak baik-baik saja," tegas Septia.

Soroti Harga BBM, UU Polri, hingga Koperasi Desa Merah Putih

Dalam orasinya, Septia mengkritik keras harga BBM nonsubsidi yang tak kunjung turun meski harga minyak dunia melandai. Kondisi ini dinilai mencekik masyarakat dan memicu antrean panjang akibat pengguna Pertamax bermigrasi ke Pertalite.

Selain masalah perut, mahasiswa juga menyoroti pengesahan UU Polri yang dinilai memberikan karpet merah bagi aparat kepolisian untuk menduduki jabatan sipil.

"Tugas Polri itu mengayomi masyarakat. Kenapa sekarang malah merebut apa yang menjadi hak masyarakat umum? Ini mempersempit ruang kerja sipil dan bertentangan dengan janji pemerintah yang katanya mau membuka jutaan lapangan kerja. Kami rasa perlu ada judicial review," cetus Septia.

Program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) pun tak luput dari sasaran kritik. Mahasiswa menilai program tersebut dipaksakan tanpa melihat penolakan di akar rumput.

"Bagus programnya kalau benar-benar memutar ekonomi, tapi nyatanya tidak seperti itu. Koperasi Desa Merah Putih ini sama sekali tidak menggambarkan prinsip koperasi yang sesungguhnya. Jangan dipaksakan kalau rakyat menolak," pungkasnya.

Sebelum mengepung kantor Gubernuran, massa aksi diketahui sempat melakukan long march dan berorasi di Tugu Muda serta area Pertamina guna memantik kesadaran masyarakat Semarang agar berani menyuarakan hak-hak mereka yang tercekik kebijakan pemerintah.

Baca Juga: Dari Kebocoran hingga Kapal Terbakar: Pertamina Simulasi Keadaan Darurat di Pesisir Semarang

Kontributor: Ilma Latif

Load More