- Embun upas di Dataran Tinggi Dieng pada 9–10 Juli 2026 menyebabkan kerusakan pada 25 hingga 30 hektare tanaman kentang.
- Fenomena suhu dingin yang ekstrem tersebut mengakibatkan petani di Banjarnegara menderita kerugian finansial sekitar Rp70 juta per hektare lahan.
- BMKG menyatakan embun beku merupakan fenomena lazim saat kemarau yang terjadi ketika suhu udara turun hingga di bawah nol derajat.
SuaraJawaTengah.id - Fenomena embun es atau frost yang menjadi daya tarik wisata musim kemarau di Dataran Tinggi Dieng kembali membawa pukulan bagi petani. Embun upas yang muncul pada 9–10 Juli 2026 merusak sekitar 25-30 hektare tanaman kentang di Banjarnegara, dengan estimasi kerugian mencapai Rp70 juta per hektare.
Di saat ribuan wisatawan datang untuk mengabadikan hamparan kristal es yang menyelimuti rumput dan tanaman, petani justru harus menyaksikan tanaman kentang mereka mengering dan mati akibat suhu yang turun hingga mendekati titik beku.
Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Ketahanan Pangan (DPPKP) Banjarnegara Firman Sapta Ady mengatakan hasil pemantauan sementara menunjukkan embun upas merusak lahan kentang di sejumlah titik di kawasan Dieng, antara lain Lapangan Pandawa, Kompleks Candi Arjuna, Gasiran Aswatama, Kalibana, hingga Kompleks Setyaki.
"Estimasi luas tanaman kentang yang terdampak mencapai sekitar 25 sampai 30 hektare berdasarkan pemantauan di lapangan," katanya dikutip dari ANTARA pada Jumat (10/7/2026).
Menurut Firman, petani sebenarnya telah melakukan berbagai upaya mitigasi, seperti menyiram tanaman pada sore hari untuk menciptakan uap air serta menutup tanaman menggunakan paranet dan daun bambu.
Namun, tanaman kentang berumur sekitar 40 hari ke bawah umumnya tidak mampu bertahan setelah terkena embun beku.
"Kalau dirata-rata, estimasi kerugiannya mencapai sekitar Rp70 juta per hektare," ujarnya.
Ia memperkirakan petani yang mengalami gagal panen baru dapat kembali menanam sekitar September 2026 setelah kondisi cuaca lebih mendukung.
Sementara itu, Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Ahmad Yani Semarang Yoga Sambodo menjelaskan embun upas merupakan fenomena frost yang lazim terjadi setiap musim kemarau, terutama pada Juni hingga September.
Baca Juga: Dihantam Embun Es, Tanaman Kentang di Kawasan Dieng Banjarnegara Gagal Panen
Fenomena ini terbentuk ketika embun yang menempel di permukaan tanaman membeku akibat suhu udara yang turun hingga mendekati atau di bawah nol derajat Celsius pada malam hingga dini hari.
Meski menjadi ancaman bagi sektor pertanian, fenomena embun es juga menjadi magnet wisata musiman yang selalu menarik pengunjung ke Dieng.
BMKG mengimbau wisatawan mengenakan pakaian hangat karena suhu udara pada periode ini dapat turun hingga di bawah 0 derajat Celsius, sementara petani diminta terus meningkatkan langkah antisipasi untuk meminimalkan kerusakan tanaman akibat embun beku.
Berita Terkait
Terpopuler
- 50 Orang Berambut Cepak 'Serbu' Polda Metro Jaya: 'Mau Ambil Saksi Kasus Jampidsus'
- Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
- Surat Edaran Rahasia Kejagung Bocor, Jaksa Diminta Waspada dan Dilarang Berkomentar soal Perkara
- Gibran Bukan Panglima! Pakar UGM: Keamanan Papua Tetap Tanggung Jawab TNI dan Polri
- JK Jadi Tersangka Korupsi Ekspor Logam Tanah Jarang, Langsung Ditahan Kejagung
Pilihan
-
Jampidsus Febrie Adriansyah: Saya Tidak Mundur! Masih Terima Perintah Usut Kasus Korupsi
-
BREAKING NEWS: Penyidik Geledah Ruko di Cipete terkait 3 Perkara Korupsi
-
BREAKING NEWS! KPK Dikabarkan OTT Bupati Sukoharjo dan Sejumlah Orang
-
Jampidsus Febrie Adriansyah Tengah Disorot Publik, Keberadaannya Masih Misterius
-
Mobil Dinas TNI Tabrak Tiang Rambu di Depan DPR, Polisi Duga Pengemudi Microsleep
Terkini
-
Sisi Kelam Embun Es Dieng: Saat Wisatawan Berfoto, Petani Menanggung Rugi Miliaran Rupiah
-
Kasus Kusta di Jateng Masih Tinggi, Ahmad Luthfi Perluas Skrining Lewat Speling
-
Mahasiswa D3 Teknik Kimia UNS Belajar Langsung Praktik Industri di Semen Gresik Pabrik Rembang
-
Investasi ORI030 di BRI, Nikmati Kupon Hingga 7,00% dan Jaminan Pembayaran dari Negara
-
Bupati Sukoharjo Terjaring OTT KPK, Ahmad Luthfi: Ikan Itu Busuknya dari Kepala!