- Sebanyak 777 orang di SMAN 1 Lasem mengalami gangguan pencernaan pada 3 September 2026 akibat program Makan Bergizi Gratis.
- Dinas Kesehatan Rembang mengambil sampel makanan berupa ayam untuk diuji laboratorium guna memastikan penyebab dugaan keracunan tersebut.
- Pemerintah Kabupaten Rembang menghentikan sementara operasional penyedia makanan SPPG Soditan Lasem dan menanggung seluruh biaya pengobatan korban.
“Ada di antara beberapa itu yang ayam yang sudah agak teksturnya kurang baik,” ujar Ali.
Namun, Dinkes Rembang belum menyimpulkan makanan tersebut sebagai penyebab keracunan.
Ali menegaskan temuan mengenai kondisi ayam masih sebatas hipotesis awal. Untuk memastikan sumber masalah, petugas telah mengambil sejumlah sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium.
“Sementara hipotesisnya di situ. Selanjutnya kami sudah mengambil sampel. Insyaallah besok kita kirimkan ke Labkes Provinsi,” katanya.
Pemeriksaan tersebut akan mencakup uji kimia dan bakteriologis. Hasil laboratorium nantinya menjadi dasar untuk memastikan apakah makanan dalam paket MBG memang berkaitan dengan munculnya keluhan yang dialami ratusan warga SMA Negeri 1 Lasem.
“Kita tunggu hasilnya untuk uji kimia dan uji bakteriologis terkait dengan kasus ini,” imbuh Ali.
Operasional SPPG Dihentikan Sementara
Kasus tersebut juga berimbas langsung terhadap operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Soditan Lasem yang menjadi penyedia makanan MBG.
Sekretaris Daerah Kabupaten Rembang Fahrudin mengatakan operasional SPPG Soditan Lasem dihentikan sementara mulai Jumat (4/9/2026).
Baca Juga: Kasus Jasad Perempuan Terbakar di Demak: Motif Diduga Cemburu, Tersangka Residivis Pembunuhan
“Operasionalnya mulai besok diberhentikan sementara untuk dikaji ulang dan bagaimana penangannya selanjutnya,” kata Fahrudin.
Penghentian sementara dilakukan sembari dilakukan evaluasi terhadap penanganan dan pelaksanaan penyediaan makanan MBG.
Keputusan tersebut menjadi langkah penting di tengah proses investigasi untuk mencari penyebab pasti munculnya keluhan kesehatan yang dialami ratusan siswa, guru dan tenaga kependidikan.
Di sisi lain, persoalan pembiayaan pengobatan korban juga menjadi perhatian pemerintah daerah.
Fahrudin menyampaikan biaya perawatan bagi korban, baik yang menjalani rawat inap maupun rawat jalan, pada prinsipnya akan ditanggung oleh pihak pengelola SPPG.
“Itu biasanya masalah perawatan itu ditanggung oleh pemilik atau pengelola SPPG,” ujarnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 3 September 2026, Kesulitan Karier dan Keuangan Segera Berakhir
- Emil Audero Cabut, Cesc Fabregas Blak-blakan Dibuat Kecewa Kiper Como
- Maarten Paes Mulai Kehilangan Tempat di Ajax, Petinggi PSSI Pasang Badan
- Powder Foundation Wardah untuk Kulit Sawo Matang Shade Apa? Ini 5 Pilihannya
- 5 Shio Beruntung Hari Ini 4 September 2026, Urusan Mulai Lancar
Pilihan
-
Sebaran Abu Vulkanik Anak Krakatau Terdeteksi hingga Bandung, BMKG Ungkap Dua Klaster
-
Gemuruh Erupsi Gunung Anak Krakatau Terdengar Hingga Pesisir Pandeglang: Bikin Rumah Bergetar
-
Muncul Kubah Lava Baru di Gunung Anak Krakatau, PVMBG Jawab Kekhawatiran Potensi Tsunami
-
Gunung Anak Krakatau Erupsi Tengah Malam: Fenomena Lava Air Mancur Muncul
-
Gunung Anak Krakatau Meletus Abu Membubung 15 Km, BMKG Jepang Pantau Ancaman Tsunami
Terkini
-
Satu Menyerang, Satu Bertahan: Kisah Pemain Kembar yang Bersinar di MLSC Semarang
-
Aktivis Muda NU Hendriyanto Attan Sandang Gelar Kanjeng Raden Haryo dari Keraton Surakarta
-
42 Gol dari Tiga Uji Coba, Kendal Tornado FC Makin Pede Jelang Kompetisi
-
Tersangka MDFS Akui Bunuh Mozza Karena Cemburu, Berkenalan Via TikTok
-
Weekend di Semarang? Ini Tips Bapak-Bapak Jadi Teman Setia Antar Istri