- Ratusan siswa dan guru di Kabupaten Pati mengalami mual serta diare setelah mengonsumsi menu Makan Bergizi Gratis.
- Dinas Kesehatan Kabupaten Pati menerima laporan dugaan keracunan tersebut dari dua sekolah pada Rabu, 9 September 2026.
- Pemerintah belum memastikan penyebab gangguan kesehatan tersebut karena tim medis masih melakukan penyelidikan dan menunggu hasil laboratorium.
SuaraJawaTengah.id - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Kabupaten Pati diwarnai dugaan gangguan kesehatan massal. Ratusan siswa dan guru dari dua sekolah di Kecamatan Gembong mengalami mual dan diare setelah menyantap menu MBG.
Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pati mencatat sedikitnya 273 siswa dan 43 guru dari SMP Negeri 1 Gembong dan MTs Negeri 3 Pati mengalami keluhan tersebut.
Kepala Dinkes Kabupaten Pati, Luky Pratugas Narimo, mengatakan laporan pertama mengenai dugaan keracunan diterima pada Rabu (9/9/2026) sekitar pukul 09.00 WIB.
"Lokasi ada dua sekolah. MTs Negeri 3 Pati dan SMP Negeri 1 Gembong," kata Luky saat ditemui wartawan di SMP Negeri 1 Gembong, Rabu (9/9/2026).
Ratusan Siswa dan Guru Mengalami Keluhan
Di SMP Negeri 1 Gembong, tercatat 103 siswa dan 13 guru mengalami mual serta diare. Sedangkan di MTs Negeri 3 Pati, sebanyak 127 siswa dan 30 guru mengalami keluhan serupa.
Gangguan kesehatan tersebut muncul setelah mereka mengonsumsi menu MBG yang dibagikan pada Selasa (8/9).
Meski dugaan awal mengarah pada makanan MBG, Dinkes Pati belum dapat memastikan bahwa makanan tersebut menjadi penyebab munculnya keluhan.
"Kami mendapatkan laporan sekitar jam 09.00 WIB, informasi kami dapat awal merupakan dugaan keracunan MBG yang disajikan kemarin. Ini masih dugaan," jelas Luky.
Baca Juga: Sejumlah Kelompok Mahasiswa Tak Ikut Rencana Demo AMPB di Jakarta
Tim Dinkes Pati kini melakukan penyelidikan untuk mengetahui sumber gangguan kesehatan yang dialami para siswa dan guru.
Penyebab Belum Bisa Dipastikan
Luky menegaskan, kesimpulan mengenai penyebab kejadian tersebut belum dapat ditarik. Petugas masih melakukan penyelidikan epidemiologis dan menunggu hasil pemeriksaan laboratorium.
"Tim kami masih melakukan penyelidikan lagi, kami belum bisa memastikan penyebabnya seperti apa. Kita tunggu penyelidikan epidemiologis seperti apa, hasil uji lab seperti apa," ujarnya.
Sementara itu, para siswa dan guru yang mengalami keluhan telah mendapatkan penanganan medis. Mereka dievakuasi ke sejumlah puskesmas dan rumah sakit di wilayah Pati.
Jumlah pasien juga masih bersifat dinamis karena Dinkes tengah melakukan sinkronisasi data dari sejumlah fasilitas kesehatan, termasuk RSUD Soewondo, Mitra, dan KSH.
Berita Terkait
Terpopuler
- Masuk Red Notice Interpol, Erick Soedjasa Ditangkap Bareskrim di Bandara Juanda
- Arti Weton Bumi Kapetak Menurut Primbon Jawa: Karakter Tangguh dan Tahan Banting Menuju Sukses
- Skandal Biksu Thailand Viral: Dana Kuil Rp46 M Raib, Emas 16 Kg Disita hingga Rekaman Tak Senonoh
- Berapa Harga Oven Mini? Cek 9 Rekomendasi Merek Berkualitas dan Kisarannya
- 8 Cara Mudah Membersihkan Panci Gosong dan Berkerak agar Kembali Kinclong
Pilihan
-
Pakar UNS Soroti Pemangkasan Anggaran Kebencanaan: Negara Kita Suka Kejadian Dulu Baru Dikaji!
-
Catat! Jadwal Resmi Timnas Indonesia di FIFA ASEAN Cup 2026: Lawan Malaysia di SUGBK
-
Rp11 Triliun Disiapkan untuk Isi Rekening Massal, Seorang Dapat Berapa?
-
Harusnya Bisa Kenyang dan Sehat, 230 Siswa di Pati Malah Keracunan Usai Santap MBG
-
Drone Thermal Dikerahkan, SAR Perluas Pencarian 5 Jurnalis Hilang di Perairan Anak Krakatau
Terkini
-
Holding UMi Genap 5 Tahun, BRI Perluas Ekosistem Keuangan untuk Masyarakat
-
Kafilah Maluku Utara Terkesan, Ungkap Sisi Lain Keramahan Warga Jateng di MTQ Nasional 2026
-
Bubur Cirebon Go International, Kisah Tati Purwanti Bangun Usaha di Taipei
-
Kembalinya MTQ Nasional ke Jateng Setelah 47 Tahun, Pawai Ta'aruf di Semarang Langsung Diserbu Warga
-
Bukan Cuma untuk Umat Islam, MTQ Nasional di Semarang Jadi Pesta Rakyat Lintas Agama