- BPK Jawa Tengah meminta penyesuaian bangunan tambahan di eks Stasiun Banjarnegara pada Senin, 21 September 2026.
- Permintaan tersebut bertujuan agar bangunan baru tidak merusak struktur cagar budaya lama yang ada di lokasi.
- Pihak pengelola aset menyatakan kesanggupan mengikuti arahan pelestarian serta pemanfaatan bangunan sesuai ketentuan yang berlaku.
Menurut Wahyu, rencana tersebut masih dapat dipertimbangkan. Namun, konstruksinya harus memperhitungkan potensi air yang tertahan dan kemudian berdampak terhadap material kayu pada bangunan lama.
“Kalau itu nanti dak kemudian malah menyimpan air, itu kan nanti dengan kayu yang menempel sehingga kemungkinan terjadinya kerusakan itu akan lebih cepat,” jelasnya.
Karena itu, BPK menyarankan agar konstruksi dak tidak dibuat menempel langsung dengan dinding bangunan utama.
Adanya jarak antara konstruksi baru dan bangunan inti dinilai lebih aman untuk mengurangi risiko terhadap bangunan cagar budaya.
Wahyu menegaskan, koordinasi antara pengelola aset dengan pihak pelestarian seharusnya dilakukan sejak awal, sebelum pekerjaan fisik dilaksanakan.
Dengan koordinasi sejak awal, setiap rencana perubahan dapat dibahas terlebih dahulu sehingga pekerjaan yang sudah dilakukan tidak harus kembali dibongkar atau disesuaikan.
Dikembalikan ke Bentuk Asli
Sementara itu, Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Banjarnegara, Kuat Herry Isnanto, mengatakan hasil penilikan BPK Jateng pada prinsipnya mengarah pada upaya mengembalikan eks Stasiun Banjarnegara seperti bentuk aslinya.
“Kesimpulannya sebenarnya kita kembalikan lagi seperti aslinya, bentuk aslinya. Kemudian ada beberapa catatan agar bangunan tambahan yang ada di belakang itu bisa adaptif dengan bangunan depan,” katanya.
Baca Juga: KAI Hentikan Pembongkaran Eks Stasiun Banjarnegara, Janji Kembalikan Pintu seperti Semula
Menurut Kuat, keberadaan bangunan tambahan tetap dimungkinkan sepanjang penataannya memperhatikan keselarasan dengan bangunan utama.
Tidak hanya dari sisi tampilan, aspek keselamatan bangunan lama juga menjadi pertimbangan utama dalam penataan tersebut.
“Keselamatan bangunan lama itu juga dipertimbangkan dan diutamakan, dipertahankan,” ujarnya.
Kuat menambahkan, dalam koordinasi tersebut pihak pengelola aset menyatakan kesanggupan untuk mengikuti arahan terkait pelestarian sekaligus pemanfaatan bangunan.
Pemanfaatan bangunan, kata dia, tetap dapat dilakukan dengan catatan tidak mengesampingkan ketentuan pelestarian cagar budaya.
Pemkab Perkuat Sosialisasi
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 Shio yang Tinggalkan Masa Sulit Mulai 5 November 2026, Siap Sambut Kebahagiaan
- 9 Sunscreen untuk Wanita Usia 50 Tahun ke Atas agar Kulit Awet Muda
- Viral Pendaki Ditandu Naik Gunung Merbabu, Biaya Capai Rp30 Juta
- Apa Bedanya Adidas Originals vs Adidas Performance? Kenali dari Logo dan Kegunaannya
- 4 Sepatu Jalan dengan Teknologi Penyangga Kaki Terbaik untuk Berjalan jauh
Pilihan
-
Seskab Teddy Dikabarkan Diperiksa PUSPOM? Panglima TNI: Itu Hoaks
-
Jokowi Tak Banyak Komentar Soal Penyadapan Prabowo: Kita Hormati Proses Hukum
-
Dicecar soal Listyo Sigit Prabowo, Jokowi: Semua Orang juga Sudah Tahu
-
Jokowi Ngaku Lupa Nama 3 Temannya yang Wisuda Bareng di UGM
-
Hakim Potong Omongan Jokowi yang Melebar: Jawab Saja Pertanyaannya!
Terkini
-
BRILink Agen BRI Buka Peluang Ekonomi, Mitra di Rembang Layani hingga 100 Transaksi per Hari
-
Kader Gerindra Semarang Geruduk Polrestabes, Desak Kasus Penyadapan Prabowo Diusut Tuntas!
-
Wagub Taj Yasin Minta Baznas-Lazismu Sinergi Ikut Entaskan Kemiskinan
-
Tak Sekadar Olahraga, BRI BO Cepu Gelar Charity Run dan Walk untuk Berbagi dengan Anak Yatim
-
Dukung Masa Depan Buah Hati, BRI Private dan Prioritas Gandeng Sequoia School