"Saya memanfaatkan daun yang tumbuh di halaman. Tapi ada juga yang sengaja saya tanam sendiri yaitu daun pohon lanang. Karena teksturnya jika dicetak di media kain sutra akan detail sekali," katanya.
Satu lembar kain sutra yang bisa dibuat satu stel pakaian dihargai Rp1 Juta. Namun jika ada pelanggan yang memesan pakaian jadi kain sutra dihargai Rp1,3 juta.
Proses pembuatan keseluruhannya dilakukan secara manual. Dari mencetak di atas kain, merendam dengan pewarna alami dari bahan kulit Kayu Secang, Mahoni, Tingi, Teger dan Jambal. Tanpa ada bahan kimia untuk meminimalisir limbah produksi.
"Kita manfaatkan getah daun-daunan untuk mencetak motifnya. Jadi semua kita pakai dari alam semua, dari pewarnanya, kainnya kalau bisa serat alam jangan yang serat sintetis. Kalau kita terpaksa pakai ya campuran alamnya yang banyak," lanjutnya.
Baca Juga:Tak Punya Teman, Jadi Penyebab Remaja Purwokerto Ini Suka dengan Anak-anak
Dalam satu bulan, Sugiarti mampu membuat 10 lembar kain sutra. Omzet yang dihasilkan mencapai Rp15 juta. Namun dirinya sempat merasakan dampak dari adanya Covid-19 dalam bulan.
"Maret saya belum terpengaruh masih dapet lah Rp10 juta, tapi bulan April-Mei saya ga bisa jual. Sepi banget, ga tau tuh kenapa. Tapi Bulan Juni sampai sekarang alhamdulillah sudah mulai jalan lagi," terangnya.
Pada bulan Agustus kemarin, ia mendapatkan bantuan dari pemerintah pusat melalui Kementrian Sosial dari program Wirausaha Pemula. Jumlahnya senilai Rp10 juta.
"Program itu ada setiap tahun, terus saya sama dinas UMKM suruh ngajuin proposal. Dari bantuan itu saya buatkan galeri ini," ungkapnya.
Sugiarti selama ini memanfaatkan media sosial facebook untuk memasarkan produknya. Dari situ ia mendapat pelanggan dari berbagai wilayah di Indonesia.
Baca Juga:Konser Dangdut di Tegal, Ganjar: Kasih Aja Sanksi
"Dari Makassar, Palembang, Bandung, terus Yogyakarta dan Jakarta. Saya ramainya di FB, mungkin karena di IG kebanyakan anak muda ya yang pakai, jadi saya lebih gencar di FB saja," pungkasnya.