Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya

Mia Bustam menjadi tahanan politik selama 13 tahun

Budi Arista Romadhoni
Rabu, 30 September 2020 | 16:33 WIB
Tragedi 1965, Mia Bustam, Perempuan yang Dirampas Kemerdekaannya
Almarhum Mia Bustam di usia senja. (historia.id/Koleksi pribadi Sri Nasti Rukmawati).

Daya dan Gawe, si kembar, masih berpakaian seragam putih-putih, sebenarnya siap untuk berangkat sekolah, kemudian Gunung, Tunggal dan Shima, tampak masih terlalu kecil untuk menjaga adik-adiknya. Maka diputuskan, Nasti anakku yang lebih tua tidak jadi diciduk.

Setelah bintara itu naik, truk dijalankan dan dibawalah kami entah kemana dan untuk berapa lama. Mataku masih sempat menyapa untuk terakhir kali tempat dimana kami tinggal selama dua tahun, dalam suka dan duka. Betapa banyak angan dan cita-cita kugantungkan pada tempat itu.

Deretan pohon gudhe yang berbuah lebat, menyuplai kami dengan lauk bingko dan jublek. Pohon-pohon pisang, pohon kelapa di pinggir halaman yang baru setinggi orang dewasa. Pohon-pohon papaya yang buahnya panjang-panjang berwarna merah jingga dan manis sekali.

Truk menderu menjauh memasuki Desa Papringan, sehingga aku tak bisa lagi melihat mereka.

Baca Juga:AHY Ceritakan Kesaksian Kakeknya yang Dikenal Sebagai Penumpas PKI

Itu hari terakhir aku bertemu anak-anakku. Setelah berpindah dari penjara Wirogunan, dan Sleman, terdampar aku akhirnya di Benteng Vredeburg, tempat anjing serdadu ini mempermainkan hidupku.

Aku yakin ini bukan siksa terberatku. Aku juga yakin ini bukan pasung tembok terakhirku. Dari balik tembok kudengar angin berbisik-bisik tentang nasib kawan-kawan lamaku yang dibuang ke pulau jauh di seberang. Negeri penghabisan tempat para pemberani diasingkan. Dimana pokok-pokok sagu raksasa tumbuh dan menghidupi mereka semua.

Tiga puluh satu tahun setelah lepas dari pasungan penjara Bulu dan kamp Plantungan. Aku memutuskan tinggal di Semarang. Di Jalan Palem Kweni, daerah Tugu, Jrakah. Senang aku tinggal disana.

Meski saat ini mata mulai lamur dan selalu mbrambang, tetap kuupayakan memelihara ingatan lewat menulis. Menerjemahkan beberapa buku berbahasa Belanda, atau sekedar menerima tamu untuk wawancara.

Aku berharap Tuhan memberiku umur panjang agar dapat menghabiskan waktu melihat sembilan cicitku tumbuh besar dan berguna. Seperti sore ini, ketika kubiarkan Pandhe Lanang, cicitku dari Nasti, pergi berenang diantar neneknya. “Renang neng endhi tho? Udan-udan kok renang.”   

Baca Juga:Survei SMRC: 37 Juta Warga Indonesia Percaya PKI Akan Bangkit Lagi

Mia Bustam meninggal di Jakarta 2 Januari 2011. Perempuan bernama asli Sasmiya Sasmojo itu meninggalkan hidup yang telah merampas seluruh kemerdekaannya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini