Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Wah, Orang Kaya Tak Boleh Masuk Kelompok Ini, Inilah Sarekat Kere Semarang

Budi Arista Romadhoni Kamis, 15 Oktober 2020 | 15:01 WIB

Wah, Orang Kaya Tak Boleh Masuk Kelompok Ini, Inilah Sarekat Kere Semarang
Gedung Sarekat Islam Semarang yang Diduga pernah menjadi Kantor Sarekat Kere (suara.com/Dafi Yusuf) 

Sarekat Kere dibentuk untuk menyatukan kaum miskin atau kere

SuaraJawaTengah.id - Soe Hok Gie dalam bukunya "Di Bawah Lentera Merah" menyebut bahwa golongan kere atau sarekat kere di Semarang sangat ditakuti oleh orang-orang Eropa.

Kere sendiri bisa diartikan orang yang sangat miskin atau gembel yang tidak memiliki harta benda. 

“Golongan kaum gembel ini siap untuk mendengarkan the cry of agitator. Kaum yang tidak mempunyai apa-apa ini dengan sendirinya memiliki keberanian lebih besar untuk bertindak dan sangat mudah dibakar semangatnya,” tulis Soe Hok Gie dalam bukunya. 

Sejarawan Universitas Diponegoro Semarang Dewi Yuliati mengatakan, Sarekat Kere dibentuk di Semarang pada 1 Februari 1919 di tengah suasana pergerakan nasional sedang menggelora. 

Sarekat Kere dibentuk untuk menyatukan kaum kere agar dapat saling membantu melalui pembentukan perserikatan. Tak main-main, Sarekat Kere juga memberikan bantuan hukum bagi orang kere yang terlibat kasus hukum. 

"Saat itu, Serikat Kere ditakuti kolonial yang berada di Indonesia karena Sarekat Kere melawan tindakan-tindakan yang tidak adil dari golongan the have (Eropa) yang ketika itu menguasai ekonomi Indonesia," jelas Dewi kepada Suara.com, Kamis (15/10/2020). 

Menurutnya, saat itu Sarekat Kere berjuang untuk kemajuan kehidupan kaum miskin khususnya yang tidak mempunyai harta. Sarekat Kere beranggotakan orang-orang dari Bumiputera (Indonesia) dan Cina dengan satu syarat tak mempunyai harta. 

"Orang kaya hanya boleh sebagai donatur. Mereka tidak punya suara dan pengaruh di Serikat Kere," ucapnya. 

Serikat Kere mempunyai kegiatan seperti rapat, public meeting dan mengajukan tuntutan secara terorganisasi untuk perbaikan hidup orang miskin. Menurut Dewi, tak jarang Sarikat Kere juga langsung berlawanan dengan penguasa saat itu. 

"Ketika itu dominasi kapitalisme asing yang eksploitatif memanfaatkan orang-orang miskin terkhusus bumiputera demi mencapai keuntungan yang sebesar-besarnya, Sarekat Kere ada untuk orang-orang miskin, " imbuhnya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait