"Beliau gugur tanggal 10 Oktober 1947 atau beberapa hari setelah Palagan Tirus. Meski beliau dan pasukannya akhirnya kalah, peristiwa Palagan Tirus ini membuktikan bahwa walaupun Tegal berhasil dikuasai tentara Belanda, tapi perlawanan dari tentara Indonesia tetap ada," kata Wijanarto.
Wijanarto mengatakan, pada masa Agresi Militer Belanda, Kapten Sudibyo kerap melancarkan serangan terhadap pasukan Belanda dengan taktik gerilya kota. Salah satu serangan tiba-tiba yang dilancarkannya pernah menewaskan 23 tentara Belanda.
"Selain melakukan serangan tiba-tiba ke pasukan Belanda, Kapten Sudibyo juga melakukan aksi pemadaman listrik dalam taktik gerilyanya," ujarnya.
Lantaran jasa-jasanya dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, nama Kapten Sudibyo diabadikan menjadi nama salah satu ruas jalan di Kota Tegal. Sosoknya juga dikenal akrab dengan sosok pejuang kemerdekaan lainnya, Kolonel Sudiarto.
Baca Juga:Daftar Kereta Api dari Jakarta yang Gratis Buat Guru dan Nakes
"Setelah gugur ditembak, jenazah Kapten Sudibyo dimakamkan di Kalinyamat Kulon yang sekarang Masjid Jami Al-Muhtadin. Kemudian dipindahkan ke Taman Makam Pahlawan Puri Kusuma Negara di blok A nomor 85," ungkap Wijanarto.
Wijanarto menyebut tidak ada catatan terkait asal-usul Kapten Sudibyo. Namun dia diyakini berasal dari Surakarta atau Yogyakarta.
"Sangat disayangkan, saat makamnya dipindahkan, tidak diketahui ahli warisnya. Tapi kemungkinan dia berasal dari wilayah Solo atau Jogja. Dia bukan orang Tegal tapi pasukannya ada yang orang Tegal," ucapnya.
Kontributor : F Firdaus
Baca Juga:Dear Guru dan Nakes, KAI Sediakan Tiket Gratis, Begini Cara Dapatnya