Penelitian ini dinilainya penting, karena di negara asalnya, Sudan masih banyak domba yang belum dikembangkan secara genetika. Penelitin sejenis kemudian akan dilakukan di sana.
"Karakteristiknya tentu berbeda, karena ini domba tahan dingin. Domba Batur untuk produksi daging dan bulu. Kalau di Sudan karena cuacanya panas, sangat berfluktuasi tidak ada bulunya. Jadi hanya untuk daging," terangnya.
Setelah menyelesaikan penelitian ini, ia akan kembali ke Sudan untuk melanjutkan profesinya sebagai dosen di Fakultas Pertanian, jurusan Produksi Ternak, Universitas Islam Omdurman.
"Saya melihat ada potensi yang sangat bagus pada Domba Batur, karena dagingnya sangat banyak. Di masa depan saya pikir domba ini bisa menjadi swasembada. Karena ada domba batur yang bobot badannya mencapai 120, 112, 108 kg. Tentu ini sangat bagus," katanya.
Baca Juga:Turki Kirim Bantuan Medis ke Sudan, Isinya APD Hingga Ventilator
Kontributor : Anang Firmansyah