alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Solo Raya Tidak Kompak Hadapi Covid-19, Gibran: Hilangkan Egosektoral

Budi Arista Romadhoni Senin, 18 Januari 2021 | 17:13 WIB

Solo Raya Tidak Kompak Hadapi Covid-19, Gibran: Hilangkan Egosektoral
Gibran melakukan blusukan untuk menyampaikan visi misi ke masyarakat. (Dok Timses Gibran)

Gibran menilai kepala daerah sekitar Solo Raya tidak kompak menghadapi Covid-19, ia menggagas jika sudah dilantik menjadi Wali Kota Solo akan dialog antar kepala daerah

SuaraJawaTengah.id - Meski belum tahu kapan pandemi Covid-19 berakir, beberapa kalangan sudah membicarakan strateggi pemulihan ekonomi pascapandemi Corona. Salah satunya Calon Wali Kota Solo Gibran Rakabuming Raka

Putra sulung Presiden Jokowi itu mengaku akan menggandeng sejumlah kabupaten di Solo Raya untuk memulihkan ekonomi pascapandemi Covid-19.

"Concern kami di tahun 2021 ini menjadi tantangan ke depan mengingat COVID-19 dampaknya bukan hanya ke kesehatan tetapi juga ekonomi. Oleh karena itu, pemulihan percepatan ekonomi pascapandemi COVID-19 menjadi perhatian," kata Gibran dilansir dari ANTARA, Senin (18/1/2021). 

Ia mengatakan kerja sama dengan daerah penyangga, yaitu Kabupaten Sukoharjo, Boyolali, Wonogiri, Karanganyar, Klaten, dan Sragen menjadi salah satu prioritas. Ia mengatakan nantinya kerja sama tersebut akan dimulai dengan dialog antar kepala daerah.

Baca Juga: Terjaring Razia Masker dan Diangkut ke TPU Khusus Covid-19, Warga: Kapok!

"Yang penting harus kompak, jangan jalan sendiri-sendiri, karena apa yang terjadi di kabupaten lain akan berdampak di Solo. Kalau jumlah penduduk di Solo sendiri sekitar 500.000 jiwa, di siang hari jumlahnya bisa sampai 2,5 juta jiwa. Artinya Solo menjadi magnet di daerah sekitar, jelas kita buka komunikasi, hilangkan egosektoral," katanya.

Ia juga menyoroti permasalahan kebijakan masing-masing kepala daerah yang selama ini terkesan tidak kompak, salah satunya pembatasan aktivitas anak kecil dan ibu hamil selama pandemi COVID-19.

"Misalnya anak kecil dan ibu hamil dilarang masuk mal, itu sudah diterapkan di Solo, tetapi mereka 'ngeyel' kemudian milih ke mal di luar Solo. Jangan sampai yang ketat hanya Solo tetapi daerah lain tidak," katanya.

Selain meningkatkan kerja sama antardaerah, ia juga akan mengeluarkan sejumlah kebijakan yang bertujuan mengangkat sektor usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang saat ini sebagian besar terhantam oleh COVID-19.

"Pemulihan ekonomi harus fasilitasi restrukturisasi kredit untuk UMKM, memperbanyak program padat karya untuk yang terdampak PHK (pemutusan hubungan kerja), dan memberikan kelonggaran retribusi dan pajak untuk UMKM serta membuka peluang akan kami siapkan 'creative hub'," katanya.

Baca Juga: Gawat! Tempat Tidur Pasien Covid-19 di 11 RS Kota Balikpapan Tersisa 26 Bed

Ia mengatakan keberadaan creative hub tersebut agar anak muda bisa meningkatkan daya saing dan UMKM di Solo bisa naik kelas dengan memanfaatkan teknologi.

"Selain itu, masalah kreativitas ini saya ingin ada pusat inkubasi bisnis untuk mengembangkan startup, ingin ada co-working space untuk ruang kerja dan kolaborasi, kami ingin ada creative space sebagai ruang pameran dan seni, dan yang paling penting adalah maker space sebagai ruang kerja untuk menghasilkan barang jadi karena sebetulnya anak muda Solo kreatif semua, tinggal diberikan ruang dan panggung," katanya.

Mengenai UMKM, ia juga tidak ingin kebijakan pemerintah justru mematikan usaha para pelaku usaha. Menurut dia, selama mematuhi protokol kesehatan maka tidak masalah warung maupun kafe berjualan hingga malam hari.

"Seperti belum lama ini kan sempat viral warung (yang diminta tutup oleh Pemkab Sukoharjo), jangan sampai hal seperti itu terjadi di Kota Solo. UMKM di Kota Solo sudah sangat terpukul karena COVID-19. Pembatasan jam operasional perlu diperketat tetapi jangan membatasi ruang gerak mereka, warung buka malam tidak masalah tetapi lebih memperbanyak layanan delivery, kalau makan di tempat harus dibatasi, itu kan sudah ada di SE juga," katanya.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait