"Itulah kondisi cuaca saat musim pancaroba atau transisi, keadaan cuaca menjadi tidak menentu, seperti dari panas tiba-tiba terjadi hujan atau dari hujan tiba-tiba menjadi panas. Hal ini tentu saja bisa berdampak terhadap penurunan daya tahan tubuh," katanya.
Ia mengatakan suhu tubuh manusia pun bisa tiba-tiba berubah sesuai dengan perubahan cuaca yang ada.
Ketika tubuh mulai beradaptasi dengan perubahaan cuaca tersebut, kata dia, kekebalan tubuh secara otomatis akan menurun.
"Pada saat kondisi suhu udara panas di sekitar kita dan tiupan angin yang kering akan memudahkan debu masuk ke dalam saluran pernapasan yang dapat juga mengakibatkan terganggunya saluran pernapasan," katanya.
Baca Juga:Giliran Papua Dihantam Siklon Tropis, Gelombang 6 Meter Akan Menerjang
"Beberapa penyakit yang sering muncul dan sering kita alami pada saat masa pancaroba yang berkaitan dengan perubahan cuaca yang ekstrem seperti sekarang ini, yaitu flu ( batuk, pilek, demam ), ISPA, dan bisa juga demam berdarah dengue akibat pertumbuhan nyamuk Aedes aegypti saat musim pancaroba yang cukup banyak," lanjutnya.
Teguh mengatakan antisipasi sederhana yang dapat dilakukan masyarakat adalah harus selalu menjaga kebersihan baik lingkungan maupun badan untuk mencegah bakteri masuk, berkembang dan menular.
Selain itu, kata dia, tetap menggunakan masker dan memperkuat daya tahan tubuh dengan cara mengonsumsi makanan yang sehat dan bergizi, salah satunya adalah vitamin C untuk mencegah bakteri menyerang sistem kekebalan tubuh manusia.