Kisah Santri Malas Dikutuk Jadi Monyet Ekor Panjang di Banyumas

Monyet ini dipercaya sudah ada sejak awal mula didirikannya Masjid Saka Tunggal.

Ronald Seger Prabowo
Kamis, 15 April 2021 | 18:24 WIB
Kisah Santri Malas Dikutuk Jadi Monyet Ekor Panjang di Banyumas
Masjid Baitussalam atau Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, yang memiliki sejarah panjang menjadi masjid tertua di Kabupaten Banyumas, Kamis (15/4/2021). [Suara.com/Anang Firmansyah]

Terdapat cerita tersendiri yang melegenda mengenai monyet-monyet yang ada di kompleks Masjid Saka Tunggal. Konon gerombolan monyet itu merupakan perwujudan santri-santri murid yang dikutuk menjadi monyet karena tidak mau salat.

Bahkan disebutkan, para santri itu justru membuat kegaduhan saat orang-orang tengah melaksanakan salat hingga berakhir menjadi monyet.

"Legendanya monyet ini merupakan santri yang malas. Jadi untuk pembelajaran anak-anak, saat ini agar taat mengaji. Diwujudkanlah santri-santri yang bandel dikutuk jadi monyet ini. Intinya kalau tidak rajin, berubah jadi monyet, harus senang ngaji terus, senang ke masjid," ungkapnya.

Para monyet yang hidup di sekitar Masjid Baitussalam atau Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Kamis (15/4/2021). [Suara.com/Anang Firmansyah]
Para monyet yang hidup di sekitar Masjid Baitussalam atau Saka Tunggal di Desa Cikakak, Kecamatan Wangon, Kabupaten Banyumas, Kamis (15/4/2021). [Suara.com/Anang Firmansyah]

Meski begitu, warga masyarakat setempat sudah tidak mempercayai cerita tersebut. Hanya saja, cerita ini digunakan sebagai metode pembelajaran orangtua sekitar kepada anaknya agar rajin mengaji.

Baca Juga:Malam Ini Tarawih Perdana, Jemaah Aboge Banyumas Jalani Puasa Pertama Besok

Saat ini keberadaan monyet diperkirakan mencapai 100 ekor di sekitar Masjid Saka Tunggal. Namun karena adanya kelompok-kelompok baru, monyet ini kemudian keluar ke desa sebelah dan jumlahnya total mencapai 500 ekor di hutan-hutan.

Dengan kondisi pandemi seperti ini tentu saja mengubah pola tradisi masyarakat yang sudah terbentuk. Sulam, bersama warga desa yang lain, sempat mengurangi aktivitas. Namun belakangan, pemerintah Kabupaten Banyumas mulai dilonggarkan dan menjadi angin segar bagi warga yang kerap melakukan kegiatan gotong royong ini.

"Untuk kunjungan ke sini pada awal-awal (pandemi) sangat berkurang. Tapi semakin kesini karena mungkin sudah dilonggarkan mulai aktif. Cuma ya belum normal kaya dahulu," jelasnya.

Masjid Saka Tunggal sendiri memiliki tiga juru kunci. Namun saat ini baru diisi dua juru kunci karena salah satu juru kunci nya meninggal dunia. Sistem juru kunci yang ada sudah ditentukan dari garis keturunan.

Hingga kini, tradisi penjarohan atau ziarah masih terus dilestarikan oleh masyarakat sekitar Masjid Saka Tunggal. tradisi ini bertujuan menghormati leluhur, dan biasa digelar setiap tanggal 26 Rajab. Dalam kegiatan tersebut biasanya warga bergotong-royong mengganti pagar bambu yang mengelilingi masjid dan juga makam sekitar masjid.

Baca Juga:Kisah Guru Agama di Banyumas Ajak Siswanya Nyantri Virtual Saat Ramadhan

"Yang dimaksud jaroh itu adalah agar dijaga antara njaba lan njero atau menjaga luar dan dalam. Artinya kita menjaga tali silahturahmi dengan sesama dan juga menjaga kepercayaan kepada Allah," ujarnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini