Angkat Isu Harimau Sumatra, Sutradara Banyumas Raih Penghargaan Internasional

Isu harimau dan masyarakat Sumatra "Home For All", sutradara asal Banyumas juara Internasional Wildlife Film Festival

Budi Arista Romadhoni
Minggu, 06 Juni 2021 | 14:07 WIB
Angkat Isu Harimau Sumatra, Sutradara Banyumas Raih Penghargaan Internasional
Wasis warga Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas yang berhasil menjadi pemenang Festival Film Internasional melalui karya "Home For All". [Suara.com/Anang Firmansyah]

"Sementara interaksi manusia, jam edarnya kan tinggal menyesuaikan. Hanya kemudian ia membikin kesepakatan dengan warga disitu, pokoknya kalau pergi ke ladang sebelum jam 17.00 WIB kalian harus pulang. Karena lintasannya sama antara harimau dan manusia," lanjutnya.

Selain itu, masyarakat sekitar hutan juga mengamati, ketika musim panen padi, babi hutan pada datang. Karena babi satwa mangsa otomatis akan diikuti oleh harimau. Akhirnya harimaunya akan masuk ke kampung juga. Jika masyarakat ini mengamankan padi dengan jaring, bisa saja yang terjerat adalah harimau.

"Kasus malah nanti mereka masuk penjara kan. Nah, akhirnya mereka tidak mengakali dengan jaring. Tapi mereka menggunakan pecing (istilah yang digunakan masyarakat setempat). Bisa itu zat dengan darahnya atau rambutnya babi hutan yang dipasang di bambu kemudian ditancap di sekeliling sawah. Otomatis babi ini tidak mendekat. Pasti kan harimau juga tidak mendekat. Win-win solution, padinya juga tidak dimakan babi," ujarnya.

Lain halnya dengan narasumbernya yang berasal dari Lubuk Lagan di daerah Bengkulu. Masyarakat sekitar pernah digegerkan dengan warga setempat yang meninggal seusai bertarung dengan harimau.

Baca Juga:Formasi CPNS di Daerah dari DIY hingga Jawa Timur

Poster film home for all karya sutradara asal banyumas Wasis Wardhana. [Dok]
Poster film home for all karya sutradara asal banyumas Wasis Wardhana. [Dok]

"Pernah suatu kejadian di tahun 2015 warga meninggal karena bertarung dengan harimau. Nah media saat itu memberitakan dimangsa harimau. Padahal faktualnya belum tentu itu dimangsa harimau. Betul jika mereka tarung dengn harimau karena saling mempertahankan diri. Belum tentu juga ketika manusia ini mati dimakan kan? Saya benturkan dengan pendapat ahli yang saya masukkan disitu. Karena menurut ahli, Harimau Sumatra tidak menjadikan manusia sebagai mangsa. Kalaupun ditemukan paha manusia itu hilang. Kan hewan pemakan bangkai di hutan itu banyak. Bisa jadi karena itu, toh tidak pernah terbukti warga sedang dimakan harimau," paparnya.

Karena berdasarkan penjelasan ahli yang diwawancarai nya, harimau tidak akan meninggalkan bangkai makanannya di tempat yang menurutnya tidak aman dan akan ditutupi dengan suatu benda. Karena harimau sekali makan tidak langsung habis. Suatu waktu akan kembali lagi untuk melanjutkan makan.

"Beberapa kasus jenazah yang ditemukan tidak seperti mangsa harimau. Poinnya jadi lebih ke kritik media, bahwa tidak semua Harimau Sumatra menjadikan manusia sebagai mangsa," tuturnya.

Selain itu, ia juga mencotohkan, di suatu wilayah masih menganggap keberadaan hewan Harimau Sumatra menjadi hewan sakral. Karena ada juga yang menyebutnya dengan istilah Datuk. Artinya ada sesuatu yang diistimewakan disitu. Oleh sebab itu, tidak seluruhnya menganggap Harimau Sumatra menjadi musuh manusia.

Wasis mengatakan, proses produksi film tersebut melibatkan tiga orang saja. Dua orang termasuk dirinya yang ke lokasi untuk pengambilan gambar serta satu orang sebagai editor merangkap produksi latar belakang musik.

Baca Juga:Termasuk Kapolsek, Begini Kronologi 22 Anggota Polsek Cilongok Terpapar Covid-19

Sedangkan yang memproduseri adalah orang Bogor yang juga tim dari Forum Harimau Kita, Fahrul Amama. Penggarapan film tersebut jika ditotal menghabiskan ongkos produksi mencapai Rp 50 juta. Ia tidak bisa merinci penggunaannya, karena pengambilan gambar diambil saat waktu sela pengerjaan untuk sebuah NGO.

Pengumuman pemenang festival film ini pada pertengahan Bulan Mei lalu. Ia sebenarnya diundang untuk menghadiri perhelatan akbar ini. Namun karena keterbatasan biaya dan adanya pandemi, dirinya hanya mengikuti melalui daring.

Menurutnya panitia, hanya menyediakan ongkos akomodasi selama disana. Tidak menanggung transportasi dari Indonesia ke Amerika.

Wasis yang kini bermukim di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mengaku menyukai kucing sejak projek filmnya dimulai. Karena hal itu berhubungan dengan cerita Harimau Sumatra yang diangkat.

Kontributor : Anang Firmansyah

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

KUIS: Tipe Work-Life Balance Mana yang Paling Kamu Banget?
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Siapa Kamu di Kru Bajak Laut Topi Jerami?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Ujian Kepekaan: Apakah Anda Individu yang Empati atau Justru Cuek?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA SD: 15 Soal Matematika Kelas 6 Materi Bilangan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika SMP 2026, Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
15 Soal Simulasi TWK Paskibraka 2026
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi: 25 Soal UTBK SNBT 2026 dan Kunci Jawabannya
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kepribadian Kamu Mirip Kue Lebaran Apa, Sih?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Love Language 2026: Kenali Bahasa Cintamu agar Hubungan Makin Klik dan Minim Drama!
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: THR Kamu Cocok Buat Beli HP Apa? Cek Rekomendasinya
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis Mudik Naik Motor 2026: Uji Kesiapan Anda Sebelum Pulang Kampung
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak