"Sementara interaksi manusia, jam edarnya kan tinggal menyesuaikan. Hanya kemudian ia membikin kesepakatan dengan warga disitu, pokoknya kalau pergi ke ladang sebelum jam 17.00 WIB kalian harus pulang. Karena lintasannya sama antara harimau dan manusia," lanjutnya.
Selain itu, masyarakat sekitar hutan juga mengamati, ketika musim panen padi, babi hutan pada datang. Karena babi satwa mangsa otomatis akan diikuti oleh harimau. Akhirnya harimaunya akan masuk ke kampung juga. Jika masyarakat ini mengamankan padi dengan jaring, bisa saja yang terjerat adalah harimau.
"Kasus malah nanti mereka masuk penjara kan. Nah, akhirnya mereka tidak mengakali dengan jaring. Tapi mereka menggunakan pecing (istilah yang digunakan masyarakat setempat). Bisa itu zat dengan darahnya atau rambutnya babi hutan yang dipasang di bambu kemudian ditancap di sekeliling sawah. Otomatis babi ini tidak mendekat. Pasti kan harimau juga tidak mendekat. Win-win solution, padinya juga tidak dimakan babi," ujarnya.
Lain halnya dengan narasumbernya yang berasal dari Lubuk Lagan di daerah Bengkulu. Masyarakat sekitar pernah digegerkan dengan warga setempat yang meninggal seusai bertarung dengan harimau.
Baca Juga:Formasi CPNS di Daerah dari DIY hingga Jawa Timur
![Poster film home for all karya sutradara asal banyumas Wasis Wardhana. [Dok]](https://media.suara.com/pictures/original/2021/06/06/93966-sutradara-banyumas.jpg)
"Pernah suatu kejadian di tahun 2015 warga meninggal karena bertarung dengan harimau. Nah media saat itu memberitakan dimangsa harimau. Padahal faktualnya belum tentu itu dimangsa harimau. Betul jika mereka tarung dengn harimau karena saling mempertahankan diri. Belum tentu juga ketika manusia ini mati dimakan kan? Saya benturkan dengan pendapat ahli yang saya masukkan disitu. Karena menurut ahli, Harimau Sumatra tidak menjadikan manusia sebagai mangsa. Kalaupun ditemukan paha manusia itu hilang. Kan hewan pemakan bangkai di hutan itu banyak. Bisa jadi karena itu, toh tidak pernah terbukti warga sedang dimakan harimau," paparnya.
Karena berdasarkan penjelasan ahli yang diwawancarai nya, harimau tidak akan meninggalkan bangkai makanannya di tempat yang menurutnya tidak aman dan akan ditutupi dengan suatu benda. Karena harimau sekali makan tidak langsung habis. Suatu waktu akan kembali lagi untuk melanjutkan makan.
"Beberapa kasus jenazah yang ditemukan tidak seperti mangsa harimau. Poinnya jadi lebih ke kritik media, bahwa tidak semua Harimau Sumatra menjadikan manusia sebagai mangsa," tuturnya.
Selain itu, ia juga mencotohkan, di suatu wilayah masih menganggap keberadaan hewan Harimau Sumatra menjadi hewan sakral. Karena ada juga yang menyebutnya dengan istilah Datuk. Artinya ada sesuatu yang diistimewakan disitu. Oleh sebab itu, tidak seluruhnya menganggap Harimau Sumatra menjadi musuh manusia.
Wasis mengatakan, proses produksi film tersebut melibatkan tiga orang saja. Dua orang termasuk dirinya yang ke lokasi untuk pengambilan gambar serta satu orang sebagai editor merangkap produksi latar belakang musik.
Baca Juga:Termasuk Kapolsek, Begini Kronologi 22 Anggota Polsek Cilongok Terpapar Covid-19
Sedangkan yang memproduseri adalah orang Bogor yang juga tim dari Forum Harimau Kita, Fahrul Amama. Penggarapan film tersebut jika ditotal menghabiskan ongkos produksi mencapai Rp 50 juta. Ia tidak bisa merinci penggunaannya, karena pengambilan gambar diambil saat waktu sela pengerjaan untuk sebuah NGO.
Pengumuman pemenang festival film ini pada pertengahan Bulan Mei lalu. Ia sebenarnya diundang untuk menghadiri perhelatan akbar ini. Namun karena keterbatasan biaya dan adanya pandemi, dirinya hanya mengikuti melalui daring.
Menurutnya panitia, hanya menyediakan ongkos akomodasi selama disana. Tidak menanggung transportasi dari Indonesia ke Amerika.
Wasis yang kini bermukim di Desa Karangnangka, Kecamatan Kedungbanteng, Kabupaten Banyumas, mengaku menyukai kucing sejak projek filmnya dimulai. Karena hal itu berhubungan dengan cerita Harimau Sumatra yang diangkat.
Kontributor : Anang Firmansyah