alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Kisah Warung Langganan Pemulung di Semarang, Bayarnya Pakai Sampah!

Ronald Seger Prabowo Senin, 07 Juni 2021 | 12:47 WIB

Kisah Warung Langganan Pemulung di Semarang, Bayarnya Pakai Sampah!
Pemilik warung, Sarimin di TPA Jatibarang. [Suara.com/Dafi Yusuf]

Jika ingin mendapatkan satu porsi makan para pemulung harus membawa 20 kilogram sampah plastik ke warung tersebut.

SuaraJawaTengah.id - Terdapat sebuah warung unik di Kota Semarang yang bernama warung Mbah Min. Pembeli di warung tersebut bisa makan hanya dengan menukarkan sampah plastik.

Mayoritas, warung yang berada di kawasan TPA Jatibarang itu pembelinya adalah pemulung.

Setiap kilonya plastik tersebut ditimbang, dan dihargai Rp400 perkilonya. Jika ingin mendapatkan satu porsi makan para pemulung harus membawa 20 kilogram sampah plastik ke warung tersebut.

Pemilik warung, Sarimin (54) mengatakan, pembeli yang datang sekali makan minimal harus membawa 20 kilogram sampah plastik, karena sekali makan mereka menghabiskan uang antara Rp6 ribu sampai Rp8 ribu.

Baca Juga: Oseng Mercon Tetelan Daging Warung Bu Lusi, Rasanya Meledak di Mulut

"Karena berdekatan dengan TPA jadi paling banyak pembelinya adalah pemulung," jelasnya saa ditemui di warungnya, Senin (7/6/2021).

Sampah plastik yang bisa ditukarkan di warung miliknya hanya jenis sampah plastik yang bisa didaur ulang. Beberapa sampah plastik itu adalah gelas plastik dan botol bekas air mineral, tas plastik bekas, dan sejenisnya.

"Jika ada selisih antara hasil timbangan plastik yang mereka bawa ke sini dan harga pembelian makanan," ujarnya.  

Jika terdapat sisa atau selisih nilai uangnya secara otomatis dianggap sebagai tabungan pembeli yang bisa digunakan untuk makan selanjutnya. Daftar nama pembeli akan dicatat dan dijadikan member jika berniat untuk menjadi langganan.

"Jadi di sini juga ada member, sudah puluhan yang jadi member mereka langganan kalau makan di sini," katanya.

Baca Juga: Makan di Warung Nasi, Lelaki Ini Kaget saat Bayar 7 Tusuk Sate Kulit

Sarimin menceritakan, konsep tukar sampah untuk makan itu terfikir ketika para pemulung yang ada di sekitar TPA Jatibarang tidak pasti memiliki uang. Hal itu membuat para pemulung kerap kali berutang di warung.

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait