Pegusaha Obyek Wisata Guci Jual Sepeda Motor untuk Makan dan Anak Berhenti Kuliah

Curhatan pilu dari pelaku usaha wisata guci, mereka terpaksa menjual sepeda motor hingga anak-anak berhenti kuliah

Budi Arista Romadhoni
Selasa, 03 Agustus 2021 | 16:11 WIB
Pegusaha Obyek Wisata Guci Jual Sepeda Motor untuk Makan dan Anak Berhenti Kuliah
Kondisi obyek wisata Guci Kabupaten Tegal yang sepi dari wisatawan, Jumat (30/7/2021). Bendera putih tampak dipasang para pelaku usaha sebagai tanda menyerah dengan keadaan. [Suara.com/F Firdaus]

"Sebelum PPKM motor saya jual satu untuk nutup modal saat Guci ditutup tahun lalu, saat awal-awal corona. ‎Terus buat modal jualan saat libur Lebaran saya minjem uang lagi. Tapi pas Lebaran Guci ternyata ditutup lagi, jadi nggak bisa jualan. Pas sudah harus bayar utang belum ada uang, jadi jual lagi satu motor kemarin. Satu motor harganya Rp 4 juta. Motornya keluaran tahun lama, makanya murah," ujarnya.

Kondisi sulit yang sedang dialami Rohati juga berimbas pada pendidikan anak sulungnya, Laelatul Inayah (20). Memasuki semester dua, Laelatul yang kuliah di Universitas Negeri Semarang (Unnes) jurusan Seni dan Budaya terpaksa cuti karena tidak bisa membayar uang semester.

‎"Kuliah anak saya per semester Rp 4 juta. Sudah masuk semester dua. Pas semester satu masih bisa bayar, semester kedua nggak bisa akhirnya keluar, cuti dulu‎‎. Sempat kerja di home stay tapi sekarang berhenti karena lagi sepi," ucapnya.

Sejumlah wisatawan bermain air pemandian pancuran 13 di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (15/6). ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah
Sejumlah wisatawan bermain air pemandian pancuran 13 di Obyek Wisata Guci, Kabupaten Tegal, Jawa Tengah, Sabtu (15/6) atau sebelum pandemi Covid-19. [ANTARA FOTO/Oky Lukmansyah]

Rohati pun berharap Guci bisa segera dibuka lagi agar dia bisa kembali mendapat penghasilan dan anaknya bisa melanjutkan kuliah.

Baca Juga:Korupsi Bansos Covid-19, Pengacara Aa Umbara Singgung Sosok Berpengaruh 'HK'

‎"Kalau situasi sudah normal, anak pengennya lanjut kuliah. Makanya saya usaha kecil-kecilan supaya anak bisa kuliah. Dia cita-citanya jadi guru," harapnya.

Ketua Paguyuban Pondok Wisata Guci Sopan Sofiyanto mengatakan, ada sekitar 700 pelaku usaha yang terdampak panutupan Guci, mulai dari pemilik home stay hingga pedagang. Dari jumlah itu, 95 persen sepenuhnya mengandalkan penghasilan dari wisatawan yang datang ke Guci. 

"Otomatis sejak Guci ditutup 8 Juni, bahkan sebelum PPKM, mereka tidak punya penghasilan. Sedangkan angsuran di bank tidak ada hari liburnya. Kebutuhan pokok dan kebutuhan anak juga harus terpenuhi. Apalagi sekolah kan daring, perlu pulsa," ujarnya.

Menurut Sopan,‎ pelaku usaha kecil yang tak memiliki sumber penghasilan lain mencoba bertahan selama Guci ditutup dengan berbagai cara. Mereka ada yang sampai menjual sepeda motor dan menggadaikan sertifikat rumah atau tanah.

"Harapannya Guci dibuka kembali, tapi cara-caranya kami bingung, harus seperti apa. Makanya pelaku wisata melakukan pengibaran bendera putih atas inisiatif masing-masing karena sudah menyerah dengan keadaan. Harapannya ada solusi‎ dari pemerintah untuk pelaku wisata seperti kami," ujarnya.

Baca Juga:Penting! Tips dan Prosedur Pemberian ASI saat Ibu Menyusui Positif Covid-19

Kontributor : F Firdaus

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini