alexametrics

Pilihan Terpopuler News Lifestyle Indeks

Istilah Celeng dan Banteng yang Disebut PDIP, Semiotik yang Wajar Dalam Komunikasi Politik

Budi Arista Romadhoni Kamis, 14 Oktober 2021 | 07:57 WIB

Istilah Celeng dan Banteng yang Disebut PDIP, Semiotik yang Wajar Dalam Komunikasi Politik
Logo barisan celeng pendukung Ganjar Pranowo. Belakangan ini geger istilah celeng dan banteng, hal itu muncul saat politi PDIP mengkritik pendukung Ganjar Pranowo. [Istimewa]

Belakangan ini geger istilah celeng dan banteng, hal itu muncul saat politi PDIP mengkritik pendukung Ganjar Pranowo

Dalam komunikasi politik, kegiatan mendukung, menjatuhkan, serta melontarkan intrik merupakan hal lumrah. Dalam kasus tertentu, komunikasi politik di dunia maya sangat mungkin menimbulkan efek samping pelabelan identitas.

Namun tidak semua residu komunikasi politik palabelan berdampak negatif. Pada satu sisi, pelabelan memudahkan masyarakat mengidentifikasi kelompok yang dimaksud.  

“Hal ini menjadi efektif karena pelabelan membuat masyarakat atau netizen langsung paham akan kelompok yang dimaksud. Sama seperti pemilihan kepala desa yang masih menggunakan simbol hasil bumi untuk menggambarkan identitas calon,” ujar Jaduk.

Dalam ilmu semiotika yang mempelajari tanda, konsep simbol muncul ketika ada hubungan yang bersifat asosiasi antara yang ditandai (signified) dan yang menandai (signifier).

Baca Juga: Apa itu Barisan Celeng Berjuang yang Bikin Geger?

Jika diadopsi pada konflik internal PDIP Jawa Tengah saat ini, konsep simbol ‘celeng’ dan ‘banteng’ mungkin malah memudahkan kader mengidentifikasi kubu yang sedang berseteru.

“Itu bisa dipandang sebagai salah satu saluran dalam komunikasi politik. Semiotik hewan hanya sebagai penanda saja. Sebagai simbol identitas suatu kelompok,” kata Jaduk.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

Baca Juga

Komentar

Berita Terkait