"Jika ternyata hasil kalkulasi tersebut ada potensi kekurangan, maka perlu dilakukan antisipasi dengan menginventarisir potensi produksi yang ada di seluruh negeri, karena panen dan magnitude bencana berbeda-beda antar daerah.
"Kalau memang juga masih juga kurang, [pemerintah harus] merencanakan impor terutama untuk bahan pangan yang demand-nya masih besar atau yang kita tidak bisa tanam dalam jumlah banyak misalnya bawang putih," ia menjelaskan.
Sekretaris Perusahaan Bulog, Awaludin Iqbal, mengatakan perusahaan pelat merah tersebut mengelola stok cadangan beras pemerintah sebanyak satu sampai satu setengah juta ton yang tersebar di seluruh wilayah.
Stok tersebut akan digunakan untuk penanggulangan bencana dan pasca bencana serta pengendalian harga.
Baca Juga:Dampak La Nina, Ini 11 Titik Rawan Bencana di Sampang
"Jadi fungsi itu sampai sekarang masih, dan kita sudah sediakan itu dalam kondisi apapun -- apakah itu la nina atau el nino. semua kondisi, kita sudah siapkan," katanya.
Sementara Direktorat Jenderal Tanaman Pangan Kementerian Pertanian, dalam pernyataan tertulis kepada BBC News Indonesia, menjabarkan sejumlah upaya antisipasi dan mitigasi untuk mengamankan produksi pangan dari dampak La Nina.
Upaya-upaya tersebut antara lain pemetaan daerah rawan bencana, rehabilitasi saluran irigasi, dan penggunaan benih tahan genangan di daerah yang rawan banjir.