Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda, Ini Sejarah Panjang Tempe Mendoan di Banyumas

Ini perjalanan tempe mendoan di Banyumas menurut Budayawan Ahmad Tohari

Budi Arista Romadhoni
Senin, 01 November 2021 | 14:21 WIB
Ditetapkan Warisan Budaya Tak Benda, Ini Sejarah Panjang Tempe Mendoan di Banyumas
Arsip Foto - Mendoan khas Banyumas yang telah ditetapkan sebagai warisan budaya takbenda (WBTb) oleh Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi. [ANTARA/Sumarwoto]
Budayawan Indonesia asal Kabupaten Banyumas, Ahmad Tohari di kediamannya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. [Suara.com/Anang Firmansyah]
Budayawan Indonesia asal Kabupaten Banyumas, Ahmad Tohari di kediamannya, Desa Tinggarjaya, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas. [Suara.com/Anang Firmansyah]

"Wong nyambut gawe aja mendoan aja mendo, ditutugna nganti rampung (orang bekerja jangan setengah-setengah, dikerjakan hingga selesai)," ungkap Ahmad Tohari.

Dahulu kala, ketika Ahmad Tohari muda dan masih indekos di dekat Pasar Wage Purwokerto padan tahun 1962, masih jelas betul dalam ingatannya, terdapat sentra produk keripik tempe dan mendoan. Kebetulan Ahmad Tohari indekos di sebelah rumah pemilik mendoan tersebut.

"Waktu dahulu, sebelah utara Pasar Wage di Jalan Penatusan ada sentra produk keripik dan mendoan. Kebetulan saya kos di sebelah rumahnya sehingga saya mengerti betul proses pembuatannya. Mendoan itu sangat pas sekali dinikmati dengan kopi hitam kental dan cabai rawit atau orang sini menyebutnya nyigit," kata pengarang Novel legendaris Ronggeng Dukuh Paruk ini.

Ahmad Tohari tidak mengetahui persis kapan mendoan ini ditemukan. Namun ia memperkirakan, mendoan ini sudah ada sejak bangsa Indonesia mengenal kedelai lalu membuat tempe. Yang mengajari masyarakat pribumi membuat tempe adalah orang tionghoa.

Baca Juga:Bikin Pilu, Ratusan Anak di Banyumas Jadi Yatim Piatu Gegara Covid-19

"Kalau itu acuannya berarti kita sudah mengenal tempe sejak zaman Demak atau abad ke-15. Karena Demak sangat dipengaruhi budaya cina. Raden Patah sendiri kan keturunan cina. Kita sudah mengenal tempe tentu saja olahan turunannya bisa berupa tempe goreng dan bisa jadi mendoan disitu," jelas Ahmad Tohari.

Perajin tempe mendoan sedang memproduksi di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Kamis (7/1/2021). (Suara.com/Anang Firmansyah)
Perajin tempe mendoan sedang memproduksi di Desa Pliken, Kecamatan Kembaran, Kabupaten Banyumas, Kamis (7/1/2021). (Suara.com/Anang Firmansyah)

Meskipun mendoan dikenal sebagai makanan khas Banyumas, namun faktanya, gorengan ini banyak ditemukan di Kabupaten Cilacap, Purbalingga, bahkan Kebumen. Namun Ahmad Tohari berharap, penetapan WTBp ini tidak menimbulkan polemik asal muasal Mendoan.

"Saya kira kalau diklaim makanan khas Banyumas Raya saya mendukung itu. Artinya disini Banyumas bisa berarti Banyumas Raya. Walaupun perwakilan resmi administratifnya orang Pemkab Banyumas, tidak apa-apa. Karena wilayah sebaran budaya banyumas itu empat kabupaten. Bahkan mungkin menjorok ke Kebumen dan Bumiayu, Kabupaten Brebes. Tidak ada perbedaan signifikan dari Mendoan, paling ya variasi bumbu saja," tandasnya.

Kontributor : Anang Firmansyah

Baca Juga:Potret Lucu Sandiaga Uno Naik Odong-odong Kunjungi Desa Wisata Cikakak

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini