Setiap tahun negara mengeluarkan devisa lebih dari Rp 8 triliun devisi untuk membeli bawang putih dari luar negeri.
Berbeda dengan masa kejayaan tahun 1994, luas lahan budi daya bawang putih sekarang hanya tersisa 2 ribu hektare. Lahan yang dibutuhkan untuk mencapai swasembada bawang putih sekitar 26 ribu hektare.
Jika pada masa jayanya bawang putih ditanam di 100 kabupaten, saat ini sentra pertanian bawang putih hanya tersisa di Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Tual, Sembalun (Lombok, NTB), dan Solok (Sumatera Barat).
Luas lahan tanam bawang putih di Kabupaten Magelang tahun 2021 mencapai 703 hektare. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran, Windusari, Sawangan, Pakis, dan Ngablak.
Baca Juga:Manfaat Bawang Putih untuk Pria, Ampuh Cegah Impotensi hingga Bikin Wanita Tertarik
Hasil panen bawang putih di Magelang diperkirakan mencapai 900 ton. Tingkat produktifitas panen bawang putih sekitar 6,5-7 ton per hektare.
“Mulai yang ukuran umbinya kecil di Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, sekarang komoditasnya sudah besar-besar. Diameter umbinya lebih dari 3 centimeter sudah bisa,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, Ade Kuncoro Kusumaningtiyas.
Selain untuk konsumsi, bawang putih Magelang juga disiapkan untuk pembibitan. Spesifikasi bibit harus lebih dari 3,5 cm agar ukuran bawang putih jadi lebih besar.
Petani sebaiknya menggunakan pupuk organik, mengatur tumpang sari tidak lebih dari 50 persen, dan mengairi lahan dengan baik agar hasil panen maksimal.
“Magelang menjadi sentra permintaan benih unggul selain Temanggung dan Wonosobo. Kebutuhan bibit 500 kilogram untuk 1 hektare lahan. Kita sudah ada lahan tanam 703 hektare,” ujar Ade.
Baca Juga:8 Tempat Rafting di Indonesia, Cara Seru Terbaik untuk Menguji Adrenalin
Petani berharap selain mengejar hasil produksi, pemerintah menyiapkan sarana pemasaran bawang putih dengan baik. Pemasaran tidak hanya fokus pada kemitraan, namun juga promosi ke seluruh Indonesia.