Bawang Putih Lokal Kalah Saing, Pasar 95 Persen Dikuasai Impor

Kebutuhan bawang putih nasional saat ini 580 ribu-600 ribu ton per tahun.

Ronald Seger Prabowo
Rabu, 22 Desember 2021 | 09:16 WIB
Bawang Putih Lokal Kalah Saing, Pasar 95 Persen Dikuasai Impor
Bawang putih lokal hasil panen petani Kabupaten Magelang. [Suara.com/ Angga Haksoro Ardi]

SuaraJawaTengah.id - Kementerian Pertanian membidik 25 persen dari total kebutuhan pasar bawang putih nasional. Pasar dalam negeri saat ini didominasi bawang putih impor.

Indonesia pernah mencapai swasembada bawang putih sekitar tahun 1994. Sentra penanaman bawang putih saat itu tersebar di 100 kabupaten dan hanya 10 persen kebutuhan bawang putih yang dipenuhi dari impor.

Kondisi itu bertahan hingga tahun 1998. Krisis moneter dan dibukanya pedagangan bebas impor, menyebabkan harga jual bawang putih lokal kalah bersaing.

“Tahun 1998 kemampuan suplai (bawang putih) kita bisa 95 sampai 98 persen. Hari ini sebaliknya, kita hanya memegang 5 sampai 6 persen dari pasar bawang putih nasional,” kata Hanang Dwi Atmojo, Pengawas Mutu Hasil Pertanian pada Kementerian Pertanian, Selasa (21/12/2021).  

Baca Juga:Manfaat Bawang Putih untuk Pria, Ampuh Cegah Impotensi hingga Bikin Wanita Tertarik

Menurut Hanang, capaian minimal 25 persen pasar bawang putih bisa dicapai dengan memenuhi sejumlah syarat. Antara lain dengan menambah ukuran umbi dan gencar menyosialisasikan konsumsi bawang putih lokal.

Selain itu biaya produksi bawang putih lokal juga perlu ditekan. Sebab ongkos tanam yang tinggi menyebabkan harga jual bawang putih lokal lebih mahal dibanding bawang putih impor.

“Dengan break event point (BEP) sekarang untuk produksi bawang putih yang masih tinggi. Sehingga tidak mampu bersaing dengan harga bawang putih impor. Itu yang kami coba untuk menyamakan," paparnya.

Loyalitas konsumen juga perlu ditingkatkan agar jumlah serapan bawang putih lokal di pasaran meningkat.

“Itu nanti baru ketemu setelah kita bisa bersaing di biaya produksi. Walaupun ukuran umbi sedikit lebih kecil, petani bisa kembali bersaing,” ujar Hanang.

Baca Juga:8 Tempat Rafting di Indonesia, Cara Seru Terbaik untuk Menguji Adrenalin

Kebutuhan bawang putih nasional saat ini 580 ribu-600 ribu ton per tahun. Lebih dari 95 persen kebutuhan bawang putih nasional dipenuhi dari impor.

Setiap tahun negara mengeluarkan devisa lebih dari Rp 8 triliun devisi untuk membeli bawang putih dari luar negeri.

Berbeda dengan masa kejayaan tahun 1994, luas lahan budi daya bawang putih sekarang hanya tersisa 2 ribu hektare. Lahan yang dibutuhkan untuk mencapai swasembada bawang putih sekitar 26 ribu hektare.

Jika pada masa jayanya bawang putih ditanam di 100 kabupaten, saat ini sentra pertanian bawang putih hanya tersisa di Kabupaten Magelang, Temanggung, Wonosobo, Karanganyar, Tual, Sembalun (Lombok, NTB), dan Solok (Sumatera Barat).

Luas lahan tanam bawang putih di Kabupaten Magelang tahun 2021 mencapai 703 hektare. Lahan tersebut tersebar di Kecamatan Kaliangkrik, Kajoran, Windusari, Sawangan, Pakis, dan Ngablak.

Hasil panen bawang putih di Magelang diperkirakan mencapai 900 ton. Tingkat produktifitas panen bawang putih sekitar 6,5-7 ton per hektare.

“Mulai yang ukuran umbinya kecil di Desa Sutopati, Kecamatan Kajoran, sekarang komoditasnya sudah besar-besar. Diameter umbinya lebih dari 3 centimeter sudah bisa,” kata Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Dinas Pertanian Kabupaten Magelang, Ade Kuncoro Kusumaningtiyas.

Selain untuk konsumsi, bawang putih Magelang juga disiapkan untuk pembibitan. Spesifikasi bibit harus lebih dari 3,5 cm agar ukuran bawang putih jadi lebih besar.

Petani sebaiknya menggunakan pupuk organik, mengatur tumpang sari tidak lebih dari 50 persen, dan mengairi lahan dengan baik agar hasil panen maksimal.   

“Magelang menjadi sentra permintaan benih unggul selain Temanggung dan Wonosobo. Kebutuhan bibit 500 kilogram untuk 1 hektare lahan. Kita sudah ada lahan tanam 703 hektare,” ujar Ade.

Petani berharap selain mengejar hasil produksi, pemerintah menyiapkan sarana pemasaran bawang putih dengan baik. Pemasaran tidak hanya fokus pada kemitraan, namun juga promosi ke seluruh Indonesia.

Kontributor : Angga Haksoro Ardi

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini