"Betul, malahan disitu ada Nur Sugik dan kawan-kawan. Kita tunggu, jam 15.00 WIB saya masuk kesitu, karena masih dalam pandemic, kita tanyakan baik-baik, kita izin masuk karena disitu banyak kerumunan jadi saya tanya masalah vaksin," terangnya.
"Setelah ditanya ternyata ada, setelah itu kita tanyakan apakah ada izin dari RT/RW dan kepolisian ternyata tidak ada. Saya sudah bertanya melalui wa ke perangkat desa ternyata tidak mengetahui perihal kegiatan ini," lanjutnya.
Selain takut menyebarkan virus Covid-19, mereka yang datang bersama rombongan GP Ansor berjumlah kisaran 15 orang ini, merasa resah jika Gus Nur menyebarkan ujaran kebencian di wilayah Kecamatan Sokaraja.
"Kita semua tahu sendiri lah disitu Nur Sugik, dia itu kalau pengajian kebanyakan nuwunsewu mengajarkan ujaran kebencian. Yang diresahkan masyarakat itu, mbokan disitu mengajarkan ujaran kebencian," ungkapnya.
Kepada kelompok Pagar Garuda Nusantara, Nur Sugik mengaku datang untuk berjualan madu. Namun Gangsar tidak mempercayai hanya itu tujuannya.
"Ya saya heran lah, wong jual madu harus berpakaian seperti itu. Sampai ada pengawalnya seperti itu. Kalau mau jualan ya yang fair saja, tidak usah diam-diaman seperti itu. Kalau bilang ke RT/RW malah bisa dibantu nanti kan," tuturnya.
Setelah kejadian seperti potongan video yang tersebar, ia bersama kelompoknya menunggu hingga acara tersebut benar-benar bubar. Karena ia tidak ingin jika ada yang memancing keributan di wilayah Kecamatan Sokaraja.
Sementara itu, Kapolsek Sokaraja, AKP Sutrisno ketika dihubungi membenarkan adanya acara perkumpulan tersebut di salah satu rumah warga. Namun pihaknya tidak merasa dimintai izin mengenai acara ini.
"Betul ada acara ini, tapi tidak ada izin yang masuk ke kepolisian. Kita tidak tahu menau adanya perihal acara perkumpulan ini," tutupnya.
Kontributor : Anang Firmansyah