Tan Hong Boen, Kisah Peranakan Tionghoa di Tegal: Penemu Pilkita dan Penulis Pertama Biografi Seokarno

Tan Hong Boen merupakan pioner sastra peranakan Tionghoa yang hidup pada tiga zaman.

Ronald Seger Prabowo
Senin, 31 Januari 2022 | 11:41 WIB
Tan Hong Boen, Kisah Peranakan Tionghoa di Tegal: Penemu Pilkita dan Penulis Pertama Biografi Seokarno
Presiden pertama RI, Ir Soekarno. [Instagram]

SuaraJawaTengah.id - ‎Sejumlah peranakan Tionghoa yang lahir dan hidup di Tegal memiliki kontribusi dalam berbagai bidang. Namun beberapa dari sosok mereka tak banyak diketahui masyarakat. Salah satunya adalah Tan Hong Boen.

‎Tan Hong Boen adalah peranakan Tionghoa kelahiran Kabupaten Tegal pada Februari 1905 silam. Sosok yang hidup hingga 1983 ini merupakan pembuat pertama produk jamu dan obat herbal yang sudah melegenda dan dikenal luas masyarakat, Pilkita. Pabriknya hingga kini masih kokoh berdiri di Slawi, Kabupaten Tegal.

Selain orang yang pertama kali meracik Pilkita hingga akhirnya menjadi produk obat herbal yang dikonsumsi berbagai kalangan, yang tak banyak diketahui, Tan Hong Boen juga adalah seorang penulis dan jurnalis. Dia banyak melahirkan karya-karya sastra yang‎ luput dari sejarah sastra Indonesia.

Sejarawan Pantura, Wijanarto mengatakan, ‎Tan Hong Boen merupakan pioner sastra peranakan Tionghoa yang hidup pada tiga zaman.

Baca Juga:Viral Ratna Dewi Istri Presiden Soekarno Nyanyi Sambil Dansa di Usia 82 Tahun, Publik Takjub

‎"Dia itu tinggalnya di Banjaran (Kecamatan Adiwerna). Dulu itu Banjaran sampai Slawi Kulon tempat peranakan Tionghoa yang terbesar di Kabupaten Tegal‎," katanya, Senin (31/1/2022).

Menurut Wijanarto, Tan Hong Boen tergolong penulis yang produktif. Meskipun peranakan Tionghoa, karya-karya Tan Hong Boen banyak mengangkat kisah-kisa‎h masyarakat lokal di pedesaan dan berlatar belakang legenda rakyat Nusantara.

‎"Ini yang membedakannya dengan penulis peranakan Tionghoa sebelumnya yang biasanya menerjemahkan atau mengangkat cerita dari daratan Tiongkok," ujarnya.

Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. [anri.go.id]
Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno. [anri.go.id]

Selain menulis novel serta cerita-cerita fiksi yang diterbitkan di surat kabar dan majalah, Tan Hong Boen juga menulis buku biografi. Salah satunya adalah biografi presiden RI pertama, Soekarno. Judulnya Soekarno Sebagi Manoesia dan terbit pada 1933.

‎"Dia itu penulis biografi Soekarno pertama kali sebelum Cindy Adams. Jadi dia menyaksikan pergerakan p‎olitik Soekarno dan kagum sehingga menulis biografi Soekarno. Meskipun singkat atau tipis, tapi itu menjadi bukti bahwa biografi Soekarno yang menulis pertama kali adalah peranakan Tionghoa‎," ungkap Wijanarto.

Baca Juga:Murid Ini Gambar Presiden Soekarno untuk Tugas Sejarah, Hasilnya Banjir Pujian Publik: Bagus Banget

‎Menurut Wijanarto, dalam menulis karya-karyanya, Tan Hoeng Boen senang menggunakan nama-nama samaran. Beberapa nama yang digunakan adalah nama Jawa, antara lain Ki Hadjar Sukowijono.

"Dia dijuluki oleh peneliti luar negeri sebagai pengarang berwajah seribu karena dia menulis selalu tidak dengan nama asli. Banyak namanya. Kadang nama Cina, nama Jawa‎. Selain biografi Soekarno, yang menarik dia juga pernah menulis Mahabharata," ujarnya.

Wijanarto mengatakan, melalui karya sastra, Tan Hong Boen berperan dalam upaya membangun entitas ke-Indonesiaan serta rekonsiliasi di tengah konflik horizontal yang beberapa kali pecah di Tegal pada era sebelum dan sesudah kemerdekaan.‎

‎"Dia tokoh peletak dasar rekonsiliasi ke-Indonesiaan, karena orang peranakan Tionghoa watu itu terbelah. Ada yang ingin gabung Tionghoa, ada yang ingin bergabung Indonesia‎. Tegal juga punya sejarah kelam sejumlah konflik horizontal, termasuk yang menimpa kelompok peranakan Tionghoa," jelasnya.

‎Wijanarto mengatakan, sebagai peranakan Tionghoa, Tan Hong Boen justru sangat mengagumi kebudayaan Indonesia, terutama kebudayaan Jawa. Kekaguman ini membuatnya kerap berkelana ke desa-desa.

Tan Hong Boen memiliki pemikiran, bahwa orang Tonghoa yang‎ lahir atau hidup di Indonesia harus belajar banyak dari kebudayaan Indoneisa, terutama Jawa yang sangat dia kagumi.

‎"Dia sangat tertarik dengan dunia klenik Jawa, dan pengobatan-pengobatan tradisional, herbal. Itulah yang menjadikannya meracik obat yang sampai saat ini melegenda. Obat itu dibuat untuk semua orang tanpa memandang kasta atau etnis, sehingga dia beri nama Pil Kita. Itu tahun 50-an atau 70-an buatnya,”tuturnya.

Dengan berbagai kontribusinya, Wijanarto ‎menyayangkan nama Tan Hong Boen tak banyak diketahui masyarakat, bahkan oleh pemerintah daerah setempat.

"Sampai sekarang tidak ada penghargaan dari pemerintah daerah. Padahal sejumlah peneliti luar negeri sudah meneliti sosoknya dan menulis riwayat hidupnya," ujarnya.

Kontributor : F Firdaus

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini