Satir Masjid Kauman Pindah Tempat Secara Misterius, Salah Satu Masjid Tertua di Grabag Magelang

Bergesernya satir terekam kamera CCTV yang terpasang di sisi tenggara masjid.

Ronald Seger Prabowo
Senin, 14 Februari 2022 | 19:08 WIB
Satir Masjid Kauman Pindah Tempat Secara Misterius, Salah Satu Masjid Tertua di Grabag Magelang
Akhmad Syafii menunjukkan satir Masjid Muqorrobien yang berpindah tempat secara misterius. Sempat menjadi pusat ibadah umat Islam di Grabag. [Suara.com/ Angga Haksoro Ardi]

“Kalaupun (disebabkan) ada makhluk selain manusia, ya bisa saja. Mungkin itu angin, ya bisa juga. Tapi saya tidak bisa menyatakan persis itu apa. Saya tidak tahu," ujar dia.

Masjid Muqorrobien dipantau 16 kamera CCTV dari berbagai sudut. Jika bergesernya satir sejauh sekitar 5 meter karena disengaja oleh manusia, pasti tindakan tersebut tertangkap kamera pengawas.

Teori bahwa satir bergeser karena tiupan angin menyisakan kejanggalan. Sebab pada rekaman CCTV tampak saat kejadian, seorang perempuan melintas persisi di samping satir yang sedang bergerak.

Perempuan itu tidak menyadari satir sedang bergerak. Dari rekaman CCTV tidak tampak rambut maupun baju perempuan tersebut bergerak ditiup angin.   

Baca Juga:Wow! Tunjukan Toleransi, Gereja di Magelang Gelar Misa Imlek 2573

Masjid Moqorrobien tepatnya berada di Dusun Krajan 1, Desa Grabag, Kecamatan Grabag. Masjid ini lebih dikenal warga dengan sebutan Masjid Kauman.

Seperti kebiasaan penamaan tempat di Jawa, kawasan Kauman merujuk pada tempat tinggal para ulama atau pusat aktifitas ibadah Islam. Masjid Kauman sendiri dulu dikenal sebagai masjid jam’i atau masjid besar di Grabag.

Akhmad Syafii mengaku tidak mengetahui berapa persisnya usia dari Masjid Muqorrobien. “Saya kalau masalah usia masjid kok nggak tahu persis ya. Kalau 100 tahun mungkin lebih," paparnya.

Sayang setelah melalui 4 kali pemugaran dan renovasi, masjid ini sudah kehilangan bentuk aslinya. Satu-satunya peninggalan masjid kuno adalah ukiran kayu jati berhuruf Arab dan Jawa kuna yang diletakkan di atas pintu masuk utama.

Menurut Syafii, ukiran itu menunjukkan angka tahun berdirinya Masjid Kauman. Tapi hingga saat ini belum ada orang yang bisa menerjemahkan kalimat dalam ukiran kayu tersebut.

Baca Juga:Pasien Covid-19 Magelang Tambah 56 Orang dalam 2 Hari, Isoter Disiagakan untuk Lansia dan Komorbid

“Itu menunjukkan tempat dan tanggal pembangunan masjid. Tapi ditulis pakai bahasa Jawa kuna. Orang sini nggak ada yang bisa mengartikan. Itu tanggal berdirinya masjid tapi nggak ada yang bisa baca,” ujar Syafii.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini