"Kita tahu selama pandemi Covid-19, pembiayaan negara lebih banyak ditopang oleh utang karena penerimaan negara berkurang. Nanti kalau sudah ada hiruk-pikuk Pemilu 2024, bagaimana meningkatkan penerimaan negara, pasti tersendat, ini bahaya," ujarnya.
Ia mengatakan, dalam kondisi penerimaan negara yang kurang dan utang tidak boleh, negara dituntut untuk mengurangi angka kemiskinan. Namun menurut dia, di sisi lain, berbagai bantuan yang ada selama ini seperti Bantuan Sosial dan Program Keluarga Harapan (PKH) tidak boleh langsung berhenti.
"Karena berbagai bantuan tersebut untuk menjaga masyarakat tidak jatuh miskin. Selain itu untuk menjaga daya beli masyarakat agar roda ekonomi tetap jalan," katanya.
Mekeng menilai, saat pelaksanaan Pemilu, investasi hampir tidak ada karena pengusaha dalam posisi "melihat dan menunggu" yaitu menunggu gelaran politik selesai.
Baca Juga:Bersilaturahim ke Ketua Umum MUI, Menko Airlangga Hartanto Sampaikan Hal Ini
Pada sisi lain menurut dia, biaya untuk Pemilu 2024 cukup besar yaitu mencapai Rp100 triliun dan harus dipenuhi negara, sehingga dari mana pemerintah mendapatkan dana itu sementara sumber-sumber penerimaan negara berkurang karena pandemi Covid-19.
Ia menambahkan semangat perpanjangan masa jabatan presiden juga penting karena saat ini sedang terjadi perang antara Rusia dan Ukraina.
Menurut dia, perang bisa berlangsung lama dan mungkin saja akan terjadi perang besar sehingga berdampak pada perekonomian dunia akibat harga minyak akan naik dan nilai tukar dolar terhadap rupiah juga naik.
Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian sekaligus Ketua Umum DPP Partai Golkar, Airlangga Hartarto, mengatakan, petani kelapa sawit di Siak, Pekanbaru, menginginkan perpanjangan masa jabatan presiden.
“Aspirasinya kami tangkap tentang keinginan adanya kebijakan berkelanjutan dan juga ada aspirasi kebijakan yang sama bisa terus berjalan," kata Airlangga dalam keterangan tertulis di Jakarta, Kamis (24/2). Aspirasi itu dia terima dalam kunjungan kerja ke Siak, Pekanbaru, Kamis (24/2). Petani Sawit di Kampung Libo Jaya.
Baca Juga:Popularitas Airlangga Hartarto Meroket, Pengamat Unhas: Perjalanan Masih Panjang