Di tengah konser turun hujan lebat. Panitia menghubungi TWC untuk meminta bantuan. Sumadiyono yang saat itu berstatus karyawan Taman Wisata Candi, diminta turun tangan.
“Masalahnya di Mariah Carey itu EO-nya sepertinya nggak percaya (pawang hujan). Jadi konser Mariah Carey itu sempat hujan. Saya kalau nggak dijawil ya diam saja," paparnya.
Sumadiyono juga langganan Semarang Bicycle Assosiation (Samba) penyelenggara event sepeda tahunan Tour de Borobudur. Dia mengawal cuaca rombongan sepeda yang berangkat dari Solo menuju Borobudur atau dari Semarang ke Borobudur.
Pria bersuara parau ini mengaku tidak pernah mempelajari secara khusus ilmu menghalau hujan. Keahlian itu didapatnya setelah menekuni laku spiritual Jawa semasa remaja.
Baca Juga:Mengenal Singing Bowl, Mangkuk Emas Mbak Rara Pawang Hujan yang Viral di MotoGP
Bermacam ritual, puasa ngebleng, mutih, mandi di 7 tempuran, dan kungkum (berendam) di 7 mata air, dilakoni Sumadiyono tanpa tahu tujuannya. “Orang tua bilang kamu banyakin prihatinnya. Prihatin orang tua dulu itu yang saya lakukan,” kata Sumadiyono.
Saat ritual menghalau hujan, Sumadiyono menyiapkan ubo rampe untuk sesajen. Biasanya berupa jajan pasar, pisang raja, dan dupa.
Jika ritual menghalau hujan dirasa berat, Sumadiyono akan melepas warangka (sarung) seluruh keris koleksinya. Di kamar meditasi yang kerap digunakan Sumadiyono untuk ritual menghalau hujan, terdapat puluhan keris dan benda-benda pusaka lainnya.
“Hanya kebetulan kalau berat, saya minta energi pusaka-pusaka. Kita buka semua agar ada energi bantuan. Di lokasi saya minta supaya membakar dupa," ujar dia.
Pada beberapa kali ritual, Sumadiyono memasang sarana menolak hujan berupa cabai, brambang yang ditusuk pada ujung lidi. Menurut dia, istilah perangkat ritual itu disebut sego wadang.
“Istilahnya sego wadang. Kita minta supaya padang (terang). Kalau bulu (unggas), itu untuk membuka (mendung). Jadi kita buka, supaya lokasi kita cerah.”