“Dari Pak Wali Kota, kami ke yang punya rumah, Pak Wiguna. Itu kami izin nggak cuman lisan, takutnya bisa berubah pikiran. Kami minta izin tertulis ada materai dan tanda tangan,” kata Tommy.
Butuh 2 hari pengerjaan bagi Subki dan Tommy untuk menyelesaikan mural bertema kepedulian terhadap sesama ini. Mereka berdua melukis bersama dari pagi hingga sore.
“Mural di Menowo ini tagline-nya, anak yatim piatu tidak meminta, tapi kita wajib peduli. Berbagi. Entah dalam bentuk apapun, bisa bantu pendidikan, bantu segalanya lah. Harapannya seperti itu.”
Tokoh yang diambil dalam tema mural mereka adalah Punokawan: Semar, Gareng, Bagong, Petruk.
Baca Juga:Polisi Ciduk Satu Pelaku Vandalisme di Jalan Siliwangi Bandung
Menurut Tommy dan Subki, karakter Punokawan terutama Semar, cocok mewakili jiwa ngemong anak-anak.
“Semar kan tokoh yang bijaksana. Ngayomi, penuh kasih sayang. Nggak ada kekerasan. Jadi anak yatim piatu itu ya harus dirangkul dengan kasih sayang dan perhatian," paparnya.
Dari banyak motif orang melakukan mural atau street art, Tommy memilih jalur damai. Dia memilih tidak menggunakan mural sebagai media protes atau penyampai unek-unek
“Kami tidak memakai jalur sing maido, dalam arti protes. Indonesia wis okeh wong maidonan. Kami mengambil jalur yang berbagi energi positif. Mengedukasi. Misalnya tata ruang publik ya dinikmati publik. Bukan yang provokatif dan bukan yang hasutan,” kata Tommy.
Tommy memperkirakan muralnya di-vandal oleh lebih dari lima orang. Mereka menggunakan rol dan cat tembok dalam melancarkan aksinya.
Baca Juga:Aksi Vandalisme Terjadi di Kota Solo, Satpol PP akan Perketat Pengawasan
Tommy meminta aksi vandalisme terhadap karya seni jalanan tidak lagi terulang. Dia berharap semua orang yang terlibat seni visual di jalan bisa saling berbagi tempat.