"Dulu waktu kecil suka lihat mereka lagi ada latihan tradisional sampe pagelaran wayang dari luar penjara," tuturnya.
Ia melanjutkan, selama melakukan sejumlah aktifitas di kamp, para perempuan tahanan juga beberapa kali berinteraksi dan ramah terhadap warga sekitar.
Sukarni menuturkan , ia bersama teman-teman masa kecilnya pernah menerima baju dari hasil jahitan para tahanan perempuan tersebut.
"Bahkan saat suami saya kecil sering diberikan baju hasil jahitan perempuan yang di tahan disana, suami saya kan juga asli sini," jelas Sukarni.
Baca Juga:Nahas! Kepala Kantor Kemenag Tewas Gantung Diri di Gudang Samping Rumah
Sukarni mengaku, meski dahulu ia kerap berinteraksi dengan para tahanan di kamp plantungan. Ia tak mengetahui, sebab para perempuan tersebut ditahan di daerah terpencil seperti desanya.
Menurut Sukarni, informasi yang beredar di warga sekitar pada tahun 70an, perempuan-perempuan tersebut ditahan lantaran dianggap sebagai PKI.
"Mereka itu baik-baik, tapi kami warga tidak tahu kenapa bisa sampai disini, tahunya dulu itu PKI gitu," katanya.
Karena ramahnya para tahanan tersebut, Sukarni masih terngiang salah satu nama tahanan yang pernah bertemu dengannya, sebelum mereka meninggalkan penjara sempat berpamitan dengan warga sekitar.
"Ada yang bernama bu Endang saya masih ingat, ia sangat ramah, Beberapa waktu lalu saya sempat dipertemukan, dan ia masih ingat juga dengan saya," tutur Sukarni.
Di tempat pesakitan tersebut para perempuan yang dianggap sebagai anggota Gerwani dikurung hingga 1979, untuk kemudian dibebaskan dan dipulangkan ke daerah masing-masing.