Benarkah Generasi Z Disebut-sebut Bisa Redam Polarisasi Pemilu 2024?

Polarisasi masyarakat dengan narasi-narasi tertentu pada pemilihan umum (Pemilu) 2024 harus diantisipasi dari sekarang, generasi Z pun disebut-sebut bisa meredam

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 28 Oktober 2022 | 08:10 WIB
Benarkah Generasi Z Disebut-sebut Bisa Redam Polarisasi Pemilu 2024?
Ilustrasi pemilu. Polarisasi masyarakat dengan narasi-narasi tertentu pada pemilihan umum (Pemilu) 2024 harus diantisipasi dari sekarang, generasi Z pun disebut-sebut bisa meredam. (VectorStock)

SuaraJawaTengah.id - Polarisasi masyarakat dengan narasi-narasi tertentu pada pemilihan umum (Pemilu) 2024 harus diantisipasi. Hal itu agar masyarakat tak terpecah seperti pengalaman pemilu sebelumnya.  

Perlu dilakukan edukasi kepada masyarakat atau para pemilih agar tidak terjadi perpecahan pada Pemilu 2024 mendatang. 

Sistem monitoring percakapan di platform online berdasarkan big data Drone Emprit menyebutkan Generasi Z atau generasi yang lahir antara tahun 1995 sampai 2012 bisa menjadi peredam potensi polarisasi akibat narasi politik menjelang Pemilu 2024.

"Generasi Z ini tidak sepenuhnya menyepakati narasi-narasi yang diangkat oleh seniornya (Milenial dan Generasi X), kalau saya lihat lebih kritis terhadap informasi," kata Lead Analyst Drone Emprit Rizal Nova Mujahid dikutip dari ANTARA pada Jumat (28/10/2022).

Baca Juga:Dampingi Prabowo? Cak Imin Bisa Tersandung "Kardus Durian" dan Keluarga Gus Dur

Menurut Rizal, Generasi Z dengan usia antara 13 sampai 23 tahun dalam peta percakapan di media sosial cenderung tidak mengikuti narasi yang dibangun generasi milenial (25-34 tahun) dan generasi X (41-56 tahun) menjelang Pemilu 2024.

Berdasarkan pemantauan Drone Emprit selama tiga bulan terakhir tahun 2022, kata dia, perbincangan politik generasi milenial yang mendominasi medsos hingga kini belum mengarah pada adu gagasan atau program, melainkan masih bersifat menyerang pribadi tokoh dengan isu suku, agama, ras, dan antargolongan (SARA) seperti saat Pilkada DKI 2017 dan Pemilu 2019.

Adapun tokoh yang paling dominan diperbincangkan, disebutkan Rizal, mengerucut pada tiga nama yakni Ganjar Pranowo, Anies Baswedan, dan Prabowo Subianto.

"Enggak ada narasi yang lain, polanya masih sama, mengarah ke orangnya, serangan ke personal, dan bukan serangan kepada program," kata dia.

Dengan begitu, Rizal menilai pola narasi Generasi Milenial di medsos masih berpotensi memicu polarisasi atau pembelahan di masyarakat menjelang pemilu mendatang.

Baca Juga:Puluhan Jabatan Strategis di Bogor Kosong, Pengamat Politik Ingatkan Plt Bupati: Ada Kepentingan Politik di 2024?

"Sebenarnya polarisasi bukan sudah terpetakan, tapi sudah terjadi. Kami melihat polarisasi sudah lama berjalan dan masih berjalan," ujarnya.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini