Hal itu, menurut Agus, karena Gibran ingin juga mengukuhkan dirinya sebagai bagian para tokoh nasional yang datang.
“Karena Gibran sebagai new comer di dunia politik, penting untuk berteman dengan tokoh-tokoh itu. Dengan bertemu mereka, ketokohannya dianggap setara. Itu positif untuk Gibran, karena reputasi ketokohannya jadi tidak kalah dari mereka,” katanya.