Tak mau merugi, Yanti bersama suaminya memutuskan tidak lagi menjual menu bubur kacang hijau. Dia sekarang beralih fokus menjual menu makanan berupa nasi rames, nasi telur, nasi ayam, nasi sayur dan lainnya.
"Bisa dikatakan udah sepi peminat, mahasiswa lebih memilih menu nasi ketimbang bubur kacang hijau. Menu indomie masih tetap kita pertahankan," bebernya.
![Potret warung burjo di daerah Pasar Ngaliyan masih menyediakan menu bubur kacang hijau. Jumat (27/10) [Suara.com/Ikhsan]](https://media.suara.com/pictures/653x366/2023/10/27/12263-burjo-di-semarang.jpg)
Sejarah Burjo Bagi Orang Kuningan
Dari berbagai sumber, orang Kuningan sudah menjajakan bubur kacang hijau konon dari tahun 1943 sebelum kemerdekaan. Pelopor usaha ini bernama Rulah Salim yang dulu menjual bubur kacang hijau di Yogyakarta dengan cara dipanggul.
Baca Juga:Selain Ambil Uang untuk ke Warmindo, Pelaku Mutilasi di Sleman juga Jual Hp Korban
Lambat laut, Rulah Salim membuka membuka lapak hingga akhirnya banyak warga Kuningan yang kemudian ekspansi menjadi pedagang bubur kacang hijau di daerah Jakarta, Semarang, Solo dan masih banyak yang lainnya.
Setelah saya menyantap dua buah gorengan dan menghabiskan minuman kopi. Saya semakin penasaran untuk menelusuri pencarian bubur kacang hijau di warung lainnya.
Dari Jalan Prof. Dr. Hamka saya kembali mengendarai kendaraan sepeda motor menuju Pasar Ngaliyan. Disana saya pernah melihat ada sebuah warung burjo.
Pencarian saya membuahkan hasil, warung burjo bernama "Burjo Selera" masih menyediakan menu bubur kacang hijau. Saya pun langsung memesan menu favorit saya yang saya sukai yaitu es ketam hitam.
Setelah memesan es ketan hitam, saya mencoba mengajak mamang penjualnya untuk membuka memorinya tentang perjalanan panjang warung burjo maupun warmido dengan menggunakan bahasa sunda. Kebetulan saya dan penjualnya sama-sama berasal dari Jawa Barat.
Baca Juga:Berdarah Dingin, Pelaku Masih Sempat Makan di Warmindo Usai Lakukan Mutilasi di Sleman
Nuha (63) lelaki kelahiran Cidahu Kuningan sudah menjadi penjual burjo sejak tahun 1980. Saat itu, dia ikut bekerja di salah satu warung burjo milik orang Kuningan dari daerah Cimindi di Jakarta.