Kampung Bustaman Series 1, Bertahun-tahun Tinggal di Gang Sempit hingga Rela Berbagi WC

perkampungan Bustaman yang padat penduduk yang tinggal di sebuah gang kecil. Apalagi setiap harinya mereka harus berbagi Water Closet (WC) untuk mandi, cuci, kakus

Budi Arista Romadhoni
Senin, 06 November 2023 | 10:32 WIB
Kampung Bustaman Series 1, Bertahun-tahun Tinggal di Gang Sempit hingga Rela Berbagi WC
Sebuah mural yang menceritakan sejarah Bustaman menghiasi ditengah aktivitas warga Kampung Bustaman, Kota Semarang. [suara.com/Budi Arista]

Kata Ashar Kampung Bustaman memenuhi syarat untuk membangun Sanitasi Berbasis Masyarakat (Sanimas). Sebab 60 persen warganya tidak memiliki MCK.

Dibangunnya MCK Plus tersebut untuk mengubah citra buruk yang melekat di Kampung Bustaman. Meski tinggal di gang sempit, Ashar ingin kampungnya bersih dan warganya tidak bersembarangan buang air.

"Jadi untuk mandi, buang air kecil atau besar mayoritas warga Bustaman menggunakan toilet umum. Dulu tarifnya Rp500, sekarang Rp1.000. Biaya-biaya itu untuk perawatan," paparnya.

Sedangkan MCK Plus sekaligus program biogas sendiri sudah berdiri sejak tahun 2005. Dulu warga Bustaman setiap pagi silih berganti memasak di tempat yang tersambung energi biogas tersebut.

Baca Juga:Sinergi Bersama Forkopimda, Mbak Ita Siap Amankan Arus Mudik di Kota Semarang

"Jadi untuk menghasilkan biogas menggunakan sistem pengolahan anaerobik. Disekitar bangunan itu terdapat bioregister sebagai tempat penampung, septictank sebagai tempat sedimentasi, dan lain-lainnya," kata Ashar.

Namun seiring berkembangnya zaman dan paralihan minyak tanah ke gas LPG. Warga Bustaman sudah lama tidak lagi memasak maupun menggunakan biogas tersebut.

Hanya seorang penjaga toilet yang  sesekali masih menggunakan biogas untuk keperluan merebus air dan bikin mie instan.

Diakui Ashar, belakangan ini biogas di Kampung Bustaman sering tidak berfungsi apinya kurang maksimal. Hal itu mungkin ada titik-titik keretakan di biogesternya.

"Tidak mudah merawat biogas selama 18 tahun. Kita harus cerewet pada warga agar tempat pembuangan tinja tidak boleh tercemar cairan sabun," tandasnya. 

Baca Juga:Jadi Wanita Pertama yang Menjabat Wali Kota Semarang, Ini Profil Hevearita Gunaryanti

Kontributor : Ikhsan

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini