Sejarah Tradisi Dugderan Semarang Tempo Dulu, Pernah Pakai Bom Udara

Tradisi dugderan diprakarsai oleh BupatiBupati Semarang Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat sekitar medio 1862-1881.

Budi Arista Romadhoni
Kamis, 07 Maret 2024 | 18:34 WIB
Sejarah Tradisi Dugderan Semarang Tempo Dulu, Pernah Pakai Bom Udara
Ilustrasi tradisi dugderan. Sejumlah anak mengikuti Karnaval Budaya Dugderan untuk menyambut datangnya bulan Ramadan, di Semarang. [Dokumen]

"Ya, pemakain bom udara waktu itu harus seizin pangdam atau militer," terangnya.

Setelah hilangnya pemakaian bom udara, Warak Ngendhog lalu dimunculkan untuk dijadikan simbol tradisi dugderan.

Warak Ngedhog sendiri bukan binatang sungguhan. Dia adalah binatang mitos yang melambangkan akulturasi budaya di Kota Semarang yang meliput Jawa, Arab dan China.

"Warak Ngedhog itu diciptakan tahun 80an lewat sayembara," ungkap mantan wartawan Suara Merdeka tersebut.

Baca Juga:Polisi Buka Segel Ilegal Oknum Driver di Kantor Grab dan Maxim Semarang, Ini Kronologinya

Selain itu, ada penambahan roti ganjel rel yang turut dihadirkan di tradisi dugderan. Biasanya roti ganjel rel akan dibagikan ke masyarakat setelah penabuhan bedug.

Kontributor : Ikhsan

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

News

Terkini