"Buatan saya pertama taplak meja, dibeli RT saya, Rp60 ribu," ujarnya.
Di tahun 2017 itu lah Mesni melakukan inovasi kerajinan tangannya agar tidak sama dengan UMKM yang pernah memberikan ilmu dalam membuat sarung bantal.
"Kemudian terinspirasi dari kostum anak saya memakai kain goni di ISI Jogja, maka saya buat sarung bantal pakai goni. Dan menarik dibeli," ujarnya.
Ia pun memanfaatkan karung goni bekas untuk membuat sarung bantal hingga Tas yang terlihat mewah.
Baca Juga:Ngeri! Akibat Hujan Lebat di Semarang, Jalan di Atas Gorong-gorong Amblas hingga Kedalaman 12 Meter
"Orderan terbesar pertama itu 2.000 tas untuk sovenir nikahan, kemudian ketemu dengan orang kanwil BRI pesen banyak sekali untuk sovenir. Dari Sarung bantal, kemudian berkembang ke taplak dan tas," cerita Mesni.
Kisahnya menjadi UMKM tidak hanya menceritakan suka dengan mendapatkan keuntungan saja. Ia pun mengalami duka, yaitu kehabisan modal saat pesanan banyak.
Ia mengaku saat itu tak mengerti dengan ilmu bisnis. Setiap orang pesan, selalu diterima saja.
"Karena saya masih polos ya, jadi orang pesen tanpa DP. Akhirnya modal habis untuk beli bahan," katanya.
Namun demikian, saat Pandemi Covid-19, Mesni akhirnya memberanikan diri untuk mengambil pinjaman modal usaha melalui KUR BRI.
Baca Juga:Ini Jadwal Azan Magrib Kota Semarang dan Sekitarnya pada 14 Maret 2024
Ia pun kini lega, karena bisa mengembangkan usaha kecilnya itu.