Warga Sumbang Tolak Tambang Kaki Gunung Slamet: Lingkungan Rusak, Masa Depan Terancam!

Warga Sumbang tolak keras tambang di Slamet. Aksi damai cek kerusakan & pasang spanduk. Dampak: jalan rusak, air kurang. Minta tambang ditutup total.

Budi Arista Romadhoni
Senin, 12 Januari 2026 | 05:30 WIB
Warga Sumbang Tolak Tambang Kaki Gunung Slamet: Lingkungan Rusak, Masa Depan Terancam!
Warga yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang membentangkan spanduk penolakan terhadap aktivitas pertambangan di area tambang kaki Gunung Slamet yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kecamatan Sumbang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, Minggu (11/1/2026), karena dinilai merusak lingkungan. [ANTARA/Sumarwoto]
Baca 10 detik
  • Sekitar 100 warga Sumbang berunjuk rasa damai di Desa Gandatapa, Banyumas, menolak keras pertambangan pasir hitam di kaki Gunung Slamet.
  • Aksi warga difokuskan pada pengecekan kerusakan lingkungan dan pemasangan spanduk penolakan di lokasi tambang yang meresahkan.
  • Dampak penambangan meliputi kerusakan infrastruktur jalan dan penurunan debit air, meski area tersebut diawasi KLH/BPLH.

SuaraJawaTengah.id - Sekitar 100 warga Kecamatan Sumbang, yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, menyuarakan penolakan keras terhadap aktivitas pertambangan di kaki Gunung Slamet.

Lokasi tambang yang masuk wilayah Desa Gandatapa, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah, ini dinilai merusak lingkungan secara masif dan mengancam keberlangsungan hidup masyarakat setempat.

Aksi damai ini menjadi bentuk solidaritas warga yang merasakan langsung dampak negatif dari penambangan pasir hitam tersebut.

Pada hari Minggu, para warga mendatangi area tambang yang berlokasi di perbatasan Desa Gandatapa dan Limpakuwus, Kecamatan Sumbang.

Baca Juga:Tambang Galian C di Jepara Longsor, Satu Orang Tewas, Ini Kronologinya

Namun, aksi ini berbeda dari unjuk rasa pada umumnya. Tidak ada orasi yang menggema, melainkan fokus pada pengecekan kondisi terkini lahan yang telah rusak parah.

Puncak aksi ditandai dengan pemasangan spanduk penolakan di pagar dan pintu masuk area tambang, menegaskan sikap tegas warga terhadap keberadaan tambang yang meresahkan.

Eka Wisnu, Koordinator Aliansi Masyarakat Peduli Sumbang, menjelaskan bahwa penolakan ini adalah bentuk solidaritas warga Sumbang terhadap masyarakat Desa Gandatapa yang paling merasakan dampak langsung dari aktivitas tambang.

"Kita sifatnya bersolidaritas dengan warga Gandatapa pada khususnya untuk memasang spanduk yang pada intinya adalah menolak tambang, karena dampaknya sangat dirasakan, apalagi untuk generasi kita ke depan. Anak cucu kita semua bisa diwarisi bencana,” tegas Eka.

Ia menekankan bahwa warga bukan menolak aturan atau kebijakan pemerintah, melainkan mempertimbangkan dampak jangka panjang terhadap lingkungan dan keberlanjutan hidup generasi mendatang.

Baca Juga:Evakuasi Dramatis di Gunung Slamet: Seorang Pendaki Ditemukan Meninggal Dunia

Dampak paling nyata yang dirasakan masyarakat adalah kerusakan infrastruktur jalan yang terjadi dalam waktu singkat. Eka mengungkapkan bahwa jalan-jalan yang baru diperbaiki kini kembali rusak di beberapa titik akibat lintasan kendaraan berat dari kawasan tambang.

"Jalan-jalan cepat rusak, dan sementara jalan rusak itu tidak pernah dari pihak tambang sendiri yang menyentuh untuk perbaikan, semua hanya menunggu anggaran dari pemerintah. Ini baru beberapa bulan sudah ada yang rusak,” keluhnya.

Kondisi ini menunjukkan minimnya tanggung jawab pihak tambang terhadap kerusakan yang mereka timbulkan.

Selain infrastruktur, penurunan debit air menjadi keluhan serius warga. Pasokan air yang berkurang ini sangat berpengaruh terhadap kebutuhan rumah tangga dan pertanian.

Eka menilai, jika aktivitas penambangan terus berlangsung tanpa pengawasan dan evaluasi ketat, kondisi ini akan semakin memburuk.

Ironisnya, di depan area tambang terpasang tanda peringatan resmi dari Kementerian Lingkungan Hidup/Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH) Republik Indonesia.

Tanda tersebut menunjukkan bahwa area ini sedang dalam pengawasan Pejabat Pengawas Lingkungan Hidup, namun aktivitas pertambangan tetap berjalan seperti biasa.

"Pengawasan dari KLH ada, tapi aktivitas penambangan tetap berjalan seperti biasa. Kita ini bukan alergi aturan, tapi yang kita pertimbangkan justru efek dan dampak jangka panjangnya,” ujarnya.

Harapan utama warga yang tergabung dalam aliansi ini adalah penutupan total aktivitas tambang di wilayah tersebut. Penutupan sementara, seperti yang pernah terjadi di lokasi lain, dianggap tidak cukup untuk menjawab keresahan masyarakat.

"Harapan dari warga, tambang ini ditutup total. Sampai sekarang belum ada tindakan penutupan, masih dalam tahap-tahap berikut dan aktivitas masih jalan,” pungkas Eka, menegaskan desakan warga agar pemerintah segera mengambil tindakan tegas.

Cari Tahu

Kumpulan Kuis Menarik

SIMULASI TKA SD: 15 Soal Matematika Materi Pecahan Senilai Beserta Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Beserta Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Berapa Life Path Number Kamu? Hitung Sekarang dan Lihat Rahasia Kepribadianmu
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 15 Soal Bahasa Indonesia Kelas 6 SD Materi Teks Informasi Lengkap Kunci Jawaban
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Cek Seberapa Sehat Jam Tidurmu Selama Bulan Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 30 Soal Matematika Kelas 6 SD Lengkap Kunci Jawaban dan Pembahasan
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Kamu Paling Cocok Jadi Takjil Apa saat Buka Puasa?
Ikuti Kuisnya ➔
Kuis: Jajal Seberapa Jawamu Lewat Tebak Kosakata Jatuh
Ikuti Kuisnya ➔
KUIS: Tebak Jokes Bapak-bapak, Cek Seberapa Lucu Kamu?
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Matematika Kelas 9 SMP Materi Statistika dan Peluang
Ikuti Kuisnya ➔
Simulasi TKA: 20 Soal Bahasa Indonesia Kelas 9 SMP dengan Kunci Jawaban dan Penjelasan
Ikuti Kuisnya ➔

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak