Fakta-Fakta Miris Erfan Soltani: Demonstran Iran yang Divonis Hukuman Mati

Demonstran Iran, Erfan Soltani (26), divonis mati cepat di tengah protes & sensor. Kasus ini soroti kerasnya tindakan Iran & hukuman mati sebagai alat tekan.

Budi Arista Romadhoni
Jum'at, 16 Januari 2026 | 13:12 WIB
Fakta-Fakta Miris Erfan Soltani: Demonstran Iran yang Divonis Hukuman Mati
Erfan Soltani adalah penduduk Fardis, Karaj, Iran yang divonis mati akibat melakukan aksi demo. [BBC Indonesia]
Baca 10 detik
  • Erfan Soltani (26 tahun) divonis hukuman mati sangat cepat di Fardis setelah penangkapan terkait demonstrasi Iran.
  • Otoritas Iran minim informasi, bahkan menghalangi akses hukum bagi saudara Soltani yang berprofesi pengacara.
  • Pemadaman internet mempersulit verifikasi nasib demonstran lain di tengah kekhawatiran hukuman mati sebagai alat penekan.

SuaraJawaTengah.id - Gelombang protes di Iran terus menyita perhatian dunia. Di tengah ketatnya sensor dan pemadaman internet, kisah pilu seorang demonstran bernama Erfan Soltani mencuat ke permukaan.

Pria berusia 26 tahun ini divonis hukuman mati dalam proses yang sangat cepat, memicu kekhawatiran serius dari berbagai pihak. Berikut adalah fakta-fakta penting mengenai Erfan Soltani dan situasi demonstran di Iran:

1. Penangkapan dan Vonis Hukuman Mati yang Cepat

"Erfan Soltani, 26 tahun, ditangkap Kamis lalu di kota Fardis, di sebelah barat Teheran." Hanya beberapa hari setelah penangkapannya, pihak berwenang memberi tahu keluarganya bahwa eksekusinya telah dijadwalkan pada Rabu, tanpa memberikan detail informasi tambahan.

Baca Juga:Menguak Warisan Kekayaan Mohammad Reza Pahlavi: Dari Minyak hingga Kerajaan Bisnis Global

Proses peradilan yang terburu-buru ini dikonfirmasi oleh seorang kerabat Soltani kepada BBC Persia, yang menyatakan bahwa pengadilan menjatuhkan hukuman mati "dalam proses yang sangat cepat, hanya dalam dua hari".

2. Latar Belakang Erfan Soltani

Soltani adalah penduduk Fardis, Karaj, tempat ia mengelola sebuah toko pakaian. "Dia ditangkap 'di kediaman pribadinya'," kata Hengaw, sebuah kelompok hak asasi manusia Kurdi yang berbasis di Norwegia.

Ia bukanlah seorang tokoh politik atau aktivis terkemuka, melainkan seorang warga biasa yang berani menyuarakan pendapatnya.

3. Minimnya Informasi dan Akses Hukum

Baca Juga:Fakta-fakta Mengejutkan Reza Pahlavi, Sosok yang Ingin Gulingkan Rezim Iran

Otoritas Iran dilaporkan tidak memberikan informasi lebih lanjut kepada keluarga Soltani tentang kasusnya, hanya menyebutkan bahwa ia ditangkap sehubungan dengan gelombang unjuk rasa.

Saudara Soltani, yang berprofesi sebagai pengacara, mencoba melanjutkan kasus tersebut tetapi pihak berwenang mengatakan kepadanya bahwa tidak ada yang perlu ditindaklanjuti.

"Dia hanyalah seseorang yang menentang situasi saat ini di Iran... sekarang dia menerima vonis hukuman mati karena mengungkapkan pendapatnya," ujar Awyer Shekhi dari Hengaw.

4. Pemadaman Internet dan Dampaknya

"Pemadaman internet yang diberlakukan oleh pemerintah juga telah mempersulit perolehan informasi tentang statusnya—dan orang lain dalam situasi yang berpotensi serupa."

Kondisi ini membuat sangat sulit untuk memverifikasi informasi dan mengetahui nasib demonstran lain yang mungkin menghadapi situasi serupa. Shekhi dari Hengaw khawatir ada "banyak" kasus seperti Soltani yang tidak terungkap.

BERITA TERKAIT

REKOMENDASI

Terkini

Tampilkan lebih banyak